Gelombang aksi unjuk rasa anti pemerintah yang terjadi di Iran sejak akhir tahun 2025 memasuki babak baru setelah ribuan warga tewas. Puluhan ribu demonstran menggelar aksi unjuk rasa terbesar di Teheran sejak tahun 2009 lalu dan sudah berlangsung hampir 2 pekan.
Media pemberitaan Iran memberitakan betapa ricuhnya massa yang memadati jalan-jalan di ibu kota, Teheran sebelum berkumpul di Lapangan Enqelab. Anjloknya mata uang Iran hingga menyebabkan krisis ekonomi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan demo besar-besaran terjadi di Tanah Persia.
Krisis Iran ini berujung pada aksi demonstrasi paling berdarah yang pernah tercatat dan berhasil mengguncang pemerintahan Iran sejak hari pertama. Puncak kericuhan terjadi pada 6 Januari 2026, setelah mata uang Iran (IRR) mencapai titik terendah dalam sejarah terhadap dolar AS (USD).
Aksi protes yang terjadi di Iran tidak hanya melibatkan kelompok HAM saja, pelaku bisnis juga memilih untuk turun ke jalanan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mendukung warga Iran yang melakukan demonstrasi dan ia juga menyebut bantuan AS sedang dalam perjalanan.
Mata Uang Iran Terus Merosot

Pada awal revolusi Iran tahun 1979, 1 dolar AS (USD) setara dengan 70 rial Iran (IRR), namun nilainya semakin merosot setiap tahunnya. Puncak penurunan mata uang Iran (IRR) terjadi diawal tahun 2026, dimana nilainya melewati 1,4 juta IRR per dolar AS.
Berdasarkan data terbaru, mata uang Iran sudah merosot ke angka 1.457.000 IRR per USD setelah aksi demo besar-besaran. Hal tersebut menjadi signal penurunan nilai mata uang Iran secara signifikan sekitar 20.000 kali nilai aslinya selama 4 dekade.
Keruntuhan mata uang Iran (IRR) sering dikaitkan dengan sanksi, inflasi dan isolasi diplomatik setelah PBB kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran. PBB memberikan sanksi kepada Iran pada September 2025, setelah Dewan Keamanan gagal mengesahkan resolusi guna mempertahankan keringanan sanksi terhadap Iran.
Keringanan sanksi terhadap Iran berkaitan dengan kesepakatan nonproliferasi sebelumnya yang bertujuan untuk membatasi kemampuan negara dalam membuat senjata berbasis nuklir. Langkah PBB ini diilai sebagai embargo senjata konvensional, pembatasan program rudal balistik, pembekuan aset Iran dan larangan untuk melakukan perjalanan.
Inflasi Tak Terkendali
Berdasarkan Iran Open Data, Iran dilaporkan sudah kehilangan sekitar 20% dari potensi pendapatan minyaknya dalam menghadapi sanksi yang diberikan Amerika. Penurunan tersebut menjadi awal dari depresiasi tajam, dimana para pengamat memperkirakan Iran sudah kehilangan sekitar 45% pendapatan sepanjang tahun 2025.
Hal tersebut dianggap sebagai awal keruntuhan jangka panjang secara bertahap yang berhasil mengikis daya beli, tabungan dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan domestik. Pada bulan Desember 2025, nilai inflasi Iran tercatat 42,2% menjadi salah satu tingkat inflasi tertinggi di dunia sepanjang 2025.
Korban Jiwa Berjatuhan
Lembaga Pemantau HAM, Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan jumlah korban tewas dalam aksi demo besar-besaran di Iran. Dalam laporannya, HRANA yang berbasis di AS menyebutkan jumlah korban tewas sudah melampaui 2000 orang pada Selasa (12/1/2026).
HRANA menjelaskan jika korban jiwa terbesar berasal dari sisi demonstran dengan jumlah yang mencapai 1.850 orang kehilangan nyawa. Selain itu, sebanyak 135 orang yang berafiliasi dengan pemerintah, 9 anak serta 9 warga sipil yang tidak terlibat langsung juga kehilangan nyawa.
Selain korban jiwa, lebih dari 16.700 demonstran dilaporkan sedang ditahan oleh pemerintah Iran dalam aksi demo yang sedang berlangsung. HRANA menyatakan angka tersebut sebagai yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir dan melampaui jumlah korban di kerusuhan yang pernah terjadi.
Meski baru berlangsung sekitar 2 pekan, lonjakan korban jiwa sudah 4 kali lebih besar dari total korban protes Mahsa Amini selama berbulan-bulan. Para aktivis juga memperingatkan bahwa angka korban jiwa kemungkinan akan terus meningkat, sehingga masyarakat diminta untuk tetap waspada.
Hasutan Trump
Setelah melihat laporan korban jiwa, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyerukan pernyataan agar warga Iran terus melanjutkan demonstrasi terhadap institusi. Trump juga menjelaskan jika ia sudah membatalkan semua pertemuannya dengan pejabat Iran terkait pembantaian yang disebutnya tidak masuk akal.
Trump juga menambahkan bahwa ia sudah mengirim bantuan kepada warga Iran untuk melawan pemerintah yang sudah menindas ribuan warga Iran. Ia juga menyinggung aparat keamanan Iran yang telah bertindak semena-mena terhadap ribuan demonstran dan warga yang sudah kehilangan nyawa.
Iran Nonaktifkan Internet Nasional
Setelah aksi unjuk rasa terjadi di beberapa kota di seluruh Iran, pemerintah memutuskan untuk menonaktifkan akses internet untuk meredam kerusuhan. Menanggapi langkah pemerintah Iran, kelompok pemantau internet menyatakan bahwa internet sudah diputus total di seluruh negeri pada Kamis (8/1/2026).
Menurut para analis, penonaktifan internet nasional adalah taktik yang digunakan oleh pemerintah untuk mencegah kerusuhan meluas melalui sosial media. Langkah tersebut juga diambil guna mencegah video kekerasan yang dilakukan oleh aparat terhadap para demonstran tersebar luas melalui media sosial.
Pihak berwenang diduga kewalahan dalam membendung gelombang protes yang berlangsung, para pejabat tinggi memberikan pesan bertentangan dengan cara menanggapi kerusuhan. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan perdamaian dan mengungkapkan rasa khawatirnya kepada para demonstran yang ingin suaranya didengar oleh pemerintah.
Baca Juga: Donald Trump Tarik Keanggotaan Amerika Serikat dari PBB

