Pesawat dengan jenis ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2025) di Maros. Kontak terakhir pihak menara dengan pesawat tersebut dilaporkan terjadi di sekitar Pegunungan Karest Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Awalnya pihak terkait menduga jika pesawat milik IAT dengan penerbangan tujuan Yogyakarta tersebut terjatuh di Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Untuk memastikan dugaan tersebut, Tim Search and Rescue (SAR) gabungan dikerahkan untuk mencari puing-puing pesawat yang dikabarkan terjatuh di sekitar pegunungan.
Agar proses pencarian bisa berjalan dengan lebih cepat, TNI Angkatan Udara (AU) mengerahkan lima prajurit Korps Pasukan Gerak Cepat (Kospasgat). Korpasgat ditugaskan dengan menggunakan helikopter berjenis H225M Caracal dari Skuadron Udara 8 untuk menyisiri lokasi terakhir pesawat sebelum hilang kontak.
Terkait salah satu pesawatnya yang lost contact, PT Indonesia Air Transport (IAT) buka suara mengenai jumlah kru pesawat ATR 42-500. Direktur Utama PT IAT, Tri Adi Wibowo menyebut jika di dalam pesawat tersebut terdapat 7 kru pesawat yang sedang bertugas.
Kronologi Lost Contact
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Dirjen Perhubungan Udara mengungkap kronologi pesawat ATR 42-500 yang diduga jatuh setelah hilang kontak (Lost Contact). Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT tersebut dinyatakan lost contact saat akan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar pada Sabtu (17/01/2026).
Pesawat tahun pembuatan 2000 dengan nomor seri 611 itu sedang melakukan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta dengan tujuan Makassar. Berdasarkan laporan terbaru, Air Traffic Control (ATC) sempat mengarahkan pesawat tersebut untuk mendekat ke landasan pacu pada 04:23 UTC.
Kepala Bagian Humas Dirjen Perhubungan Udara, Endah Purnama menyebut pesawat tersebut lepas landas melalui landasan pacu RWY 21 Bandar Udara Sultan Hasanuddin. Pesawat tersebut diidentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang sudah diarahkan oleh ATC, hingga memaksa ATC untuk memberikan arahan kembali.
Sejumlah instruksi lanjutan disampaikan oleh ATC untuk mengembalikan pesawat tersebut ke posisi yang benar dengan memperhatikan prosedur pendekatan yang tepat. Namun tidak lama setelah arahan terakhir untuk memperbaiki posisi disampaikan oleh ATC, komunikasi antara ATC dan pesawat terputus secara tiba-tiba.
Dinyatakan Jatuh
Setelah kehilangan kontak dengan pesawat, ATC mendeklarasikan fase darurat Distress Phase (DETRESFA) sesuai dengan ketentuan dan prosedur penerbangan yang berlaku. AirNav Indonesia Cabang MATSC juga langsung berkoordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat dan Polres Maros untuk mendukung pencarian.
Setelah dinyatakan hilang kontak dan diduga terjatuh, Tim SAR diterjunkan untuk melakukan penyisiran di area-area yang diduga sebagai titik jatuh pesawat. Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar juga sudah melakukan persiapan pembukaan Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat koordinasi informasi tambahan.
Hasil Pencarian Tim Gabungan

Tim SAR Gabungan yang terus melakukan pencarian pesawat ATR 42-500 yang diduga jatuh di Gunung Maros akhirnya menemukan puing-puing pesawat. Hasil yang menguatkan dugaan pesawat terjatuh tersebut berhasil ditemukan dalam proses pencarian hari kedua pada tanggal 18/1/2026.
Sebanyak 6 serpihan buku pilot yang diduga milik pesawat ATR 42-500 ditemukan oleh Tim SAR di lereng Gunung Bulusaraung. Puing tersebut pertama kali ditemukan dan dilaporkan oleh seorang pendaki yang melihat benda aneh dan menduganya sebagai serpihan pesawat ATR 42-500.
Serpihan-serpihan yang berhasil ditemukan oleh tim gabungan tersebut segera di evakuasi di Mapolres Pangkep untuk dilakukan pengecekan lebih lanjut. Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pangkep, Muhammad Arsyad menjelaskan jika serpihan tersebut sudah dibawa ke Desa Tompobulu, Kecamatan Bolocci.
Setelah ditemukannya serpihan buku pilot, area pencarian semakin diperkecil dan dibantu dengan pencarian melalui udara oleh TNI AU menggunakan helikopter. Kepala Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan menyatakan jika kru helikopter berhasil menemukan bagian badan dan ekor pesawat.
Helikopter AI-7301 pertama kali mengindikasi sepihan yang diduga pesawat berwarna putih di atas bukit Bulusaraung pada pukul 07:26 WITA. Dengan informasi tersebut, Tim SAR darat menyiapkan akses menuju lokasi yang disebutkan, sebab medan yang terjal dan kondisinya berkabut.
Korban Pesawat Jatuh
Dirut PT IAT, Tri Adi Wibowo menjelaskan jika hanya ada 7 kru pesawat yang bertugas, bukan 8 seperti yang diberitakan. Tri juga memberikan rincian nama-nama kru yang bertugas yaitu Andi Dhananto, Muhammad Farhan Gunawan, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, Esther Aprilita.
Nama yang ia sebutkan sedikit berbeda dari yang tercatat Passenger Manifest, sebab hanya Andi, Florencia, Lolita dan Esther yang terdaftar. Nama Kru yang tidak ia sebutkan namun ada di manifest yaitu Yudha Mahardika, Sukardi, Hariadi, Franky D Tanamal, dan Junaidi.
Meski terdapat perbedaan, Tri tidak memberikan alasan jelas terkait perbedaan nama kru yang bertugas dengan yang tercatat di Passenger Manifest. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F Laisa menyebut kru dan penumpang hanya 10 orang, sebab Captain Sukardi tidak ikut.
Selain 7 kru pesawat yang bertugas, sebanyak 3 pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menjadi korban dalam insiden mengenaskan tersebut. Menteri KKP, Saktu Wahyu Tenggoro menjelaskan jika 3 pegawainya sedang melakukan misi pengawasan sumber daya KKP melalui udara di wilayah perikanan RI.
Baca Juga: Purbaya Datangi Kantor Danantara Usai Dengar Keluhan Coretax

