Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran jika waktu bagi negara itu hampir habis untuk menghindari intervensi militer AS. Menanggapi ancaman yang disampaikan oleh Donald Trump, Iran menyatakan bahwa militer mereka siap untuk melakukan serangan habis-habisan terhadap militer AS.
Trump menegaskan jika dia tidak pernah mengesampingkan kemungkinan adanya serangan terhadap Iran, menyusul penindakan brutal terhadap gelombang protes bulan ini. Ketegangan Iran-AS juga dipicu dampak perang 12 hari pada Juni lalu antara Iran dan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat (AS).
Trump berharap Iran untuk datang ke meja perundingan dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata untuk menghindari potensi digunakannya senjata nuklir. Merujuk pada serangan Amerika terhadap target fasilitas nuklir Iran selama perang sebelumnya, Trump menyatakan serangan selanjutnya akan jauh lebih destruktif.
Para pengamat mengatakan militer Amerika Serikat memiliki opsi untuk melakukan serangan yang ditargetkan terhadap kepemimpinan di bawah Ayatollah Ali Khamenei. Apabila AS mengambil langkah tersebut, hal tersebut bisa dianggap sebagai upaya skala penuh untuk menjatuhkan sistem yang telah memerintah Iran sejak revolusi Islam 1979.
Iran Siap Hadapi AS
Seiring meningkatnya ketegangan Iran-AS, Otoritas Iran menegaskan jika pihaknya tidak pernah meminta negosiasi dengan Amerika Serikat seperti yang disebutkan Trump. Tanggapan tersebut disampaikan Iran untuk membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang sempat mengklaim Teheran menghubungi Washington untuk meminta dialog.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi, mengatakan jika dirinya belum melakukan kontak dengan Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah. Abbas Araghchi bahkan memperingatkan AS bahwa pasukannya sudah siap untuk menembak dan akan menanggapi dengan kuat setiap serangan dari Amerika.
Iran bahkan menggunakan bahasa yang mirip dengan yang diucapkan Trump untuk menggambarkan kemungkinan kesepakatan meredakan kebuntuan melalui kesepakatan nuklir baru. Bagi Teheran, senjata nuklir tidak memiliki tempat dalam perhitungan keamanan mereka dan Iran tidak akan pernah berupaya untuk mendapatkan senjata pemusnah massal tersebut.
Abbas Araghchi juga telah menjelaskan kembali penegasan Teheran yang sudah lama dipegang, yang ditolak oleh ibu kota Barat yang skeptis. Program nuklir Iran yang sempat ditolak oleh barat bahwa dijelaskan hanya akan berfokus pada penelitian dan pengembangan energi sipil saja.
Iran Menetapkan Status Siaga Perang
Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref menyatakan jika Iran sedang dalam keadaan siap perang untuk menghadapi setiap ancaman dari Amerika. Dalam pertemuan tingkat tinggi yang diadakan di Teheran, Mohammad Reza Aref menyatakan bahwa negaranya telah menetapkan status siaga perang penuh.
Teheran juga sudah menerapkan rencana ekonomi siaga perang, meski Iran tidak akan memulai konflik apa pun dengan militer Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Reza Aref tak lama setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa armada besar AS sedang menuju Iran.
Pentagon Pastikan Kesiapan Militer

Petinggi Pentagon atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, menyampaikan kepada Trump soal kesiapan militer AS dalam menghadapi Iran. Hegseth menegaskan jika militer AS saat ini sudah siap untuk melancarkan serangan apa pun yang diputuskan oleh Trump terhadap Iran.
Pejabat tinggi militer AS mengatakan bahwa Trump sedang meninjau opsi-opsi yang ada, namun ia belum memutuskan apakah akan menyerang Iran. Ketegangan antara AS-Iran meningkat secara signifikan menyusul penindakan keras oleh aparat keamanan Teheran terhadap para demonstran antipemerintah di berbagai wilayah.
Aksi unjuk rasa yang marak dalam beberapa pekan terakhir mengakibatkan ribuan demonstran dilaporkan tewas akibat penindakan keras dari otoritas Iran. Demi meredahkan aksi unjuk rasa di Iran, Trump telah berulang kali mengancam akan melakukan intervensi jika Iran terus membunuh demonstran.
Namun sejak Trump mengeluarkan ancaan akan melakukan serangan militer, aksi memprotes kesulitan ekonomi dan penindasan politik di Iran telah mereda. Trump juga menegaskan bahwa AS akan bertindak jika Teheran melanjutkan program nuklirnya, setelah pengeboman fasilitas nuklir yang dilakukan dalam seragan sebelumnya.
Turki Siaga Penuh
Pemerintah Turki mulai meningkatkan kesiapsiagaan keamanan negara di sepanjang perbatasan menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran. Langkah tersebut diambil Pemerintah Turki sebagai antisipasi dan menjaga keamanan regional terhadap kemungkinan pecahnya perselisihan militer antara Washington dan Teheran.
Turki menyatakan bahwa ketegangan AS-Iran berpotensi memicu konflik berskala besar di kawasan Timur Tengah dan berdampak langsung ke stabilitas regional. Ibu Kota Turki, Ankara tengah meninjau rencana kontijensi untuk memperkuat kontrol perbatasan dengan Iran jika situasi konflik AS-Iran semakin memburuk.
beberapa opsi yang dipertimbangkan oleh Pemerintah Turki seperti melakukan penambahan jumlah pasukan di wilayah perbatasan, memperluas penggunaan teknologi pengawasan canggih. Pemerintah Turki juga sudah meningkatkan patroli di zona perbatasan sepanjang lebih dari 500 kilometer dengan daerah yang sedang terlibat konflik.
Baca Juga: Demo di Iran Semakin Panas Hingga Bikin Warga Waswas

