IHSG kembali melemah pada awal pekan seiring tekanan jual yang dipicu dinamika kepemimpinan di BEI dan OJK serta sentimen pasar. Para pelaku pasar sebelumnya sempat berharap untuk melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak naik secara perlahan setelah ditekan MSCI.
Namun sayangnya pada awal perdagangan Senin, 2 Februari 2026, IHSG justru anjlok dengan signifikan hingga 5% ke level Rp 7.887. Hal tersebut dianggap sebagai respons pasar terhadap pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan empat pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Berdasarkan data dari perdagangan saham hingga pukul 09.00 WIB, Senin, 2 Februari 2026 IHSG sempat berada di level Rp 8.275,62. Indeks dibuka di level 8.306, sempat menguat terbatas hingga menyentuh level tertinggi 8.313 sebelum berbalik melemah dan menyentuh level terendah.
BEI sebelumnya sempat mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp1,29 triliun dengan volume perdagangan 14,93 juta lot dan frekuensi 144.270 kali transaksi. Hal tersebut mencerminkan aktivitas pasar yang cukup ramai meski diwarnai tekanan jual dan kekhawatiran terhadap tekanan MSCI di hari sebelumnya.
Klaim Danantara Terhadap IHSG
Setelah melihat ambruknya IHSG pada perdagangan Senin (2/2/2026), CEO Danantara, Rosan Roeslani memproyeksikan bahwa IHSG bisa mengalami rebound. Rosan menyipulkan bahwa penurunan ini sangat sehat, mengingat hal ini seiring respons positif investor asing terhadap langkah reformasi pasar modal Indonesia.
Rosan mengaku bahwa dirinya sudah melakukan komunikasi intensif dengan beberapa investor global yang menanamkan modal di Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Setelah melakukan komunikasi, Rosan menjelaskan mayoritas pelaku pasar asing menunjukkan pemahaman dan kepercayaan terhadap kebijakan yang tengah ditempuh pemerintah Indonesia.
kepercayaan asing terhadap kebijakan yang tengah ditempuh pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan dukungan terhadap IHSG. Rosan Roeslani menjelaskan, apabila reformasi sudah dijalankan, para investor asing akan semakin confidence dengan pasar saham yang ada di Indonesia.
Meski ada rasa kekhawatiran dan tekanan dari MSCI terhadap pasar saham Indonesia, para pelaku pasar asing tetap memberikan respon positif. Rosan juga yakin jika kedepannya pasar modal dalam negeri akan rebound dan akan berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan pemerintah.
Tanggapan Pengamat Pasar
Berlawanan dengan Rosan, beberapa pengamat pasar modal menilai tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan terkoreksi pada perdagangan awal pekan ini. Tanggapan tersebut disampaikan mengingat tekanan terhadap pasar modal yang masih kuat, terutama saat IHSG koreksi sebesar 5% di awal perdagangan (2/2/2026).
Tren penurunan IHSG terus berlanjut hingga penurunan sebesar 5,08 persen ke level 7.906 pada (2/2/2026) pukul 09.18 WIB. Penurunan signifikan tersebut terjadi karena ada 596 saham berada di zona merah, 53 saham berpotensi naik dan 59 saham stagnan.
Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memproyeksikan pergerakan IHSG masih rawan terkoreksi dibawah tekanan yang ada dan kebijakan dari pemerintah. menurutnya, sentimen pasar saat ini masih cenderung wait and see terhadap pertemuan antara BEI dengan MSCI terkait transparansi free float
Sementara itu, Analis dari Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova memperkirakan tekanan jual di pasar saham cenderung melakukan aksi trading jangka pendek. Hal tersebut disimpulkan oleh Ivan setelah melihat para pelaku pasar yang telah memanfaatkan momen kenaikan IHSG pada akhir pekan lalu.
Peluang Trading Halt
Ivan juga sudah memproyeksi peluang untuk dilakukannya penutupan sementara perdagangan (trading halt) masih sangat kecil, tidak seperti pada pekan lalu. Meski peluangnya masi sangat kecil, Ivan juga menegaskan jika ada sentimen negatif lain maka BEI bisa saja melakukan trading halt.
Terkait kemungkinan dilakukannya trading halt, Herditya menyampaikan potensi trading halt masih dapat dicermati ke depannya lantaran emiten perbankan berkapitalisasi besar masih bergerak menguat. Ia juga menjelaskan bahwa batasan trading halt saat ini masih berada di angka 8 persen sehingga masih perlu di analisa.
Tanggapan Menkeu Purbaya

Sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa sempat memperkirakan bahwa IHSG akan rebound saat menghadapi tekanan MSCI beberapa hari lalu. Namun tekanan dari kebijakan MSCI terhadap IHSG terus berlanjut hingga awal perdagangan Senin (2/2/2026) dengan penurunan sebesar 5%
Meskibegitu, Purbaya tetap optimis bahwa prospek pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat mendorong para investor untuk kembali masuk ke pasar saham. Menurutnya, IHSG bakal berbalik arah dan rebound tinggi usai aksi jual besar-besaran oleh investor asing pada pekan lalu menanggapi MSCI.
Menkeu Purbaya menegaskan bahwa dirinya akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri di atas target APBN sebesar 5,4%, menjadi 6%. Meski ia sangat optimis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, Purbaya juga memahami respon negatif terhadap pengunduran diri pimpinan tinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Bursa Efek Indonesia (BEI).
Namun ia memastikan respons pemerintah yang cepat dan fundamental ekonomi Indonesia yang baik bisa membuat investor semakin yakin untuk kembali. Ia juga meminta agar para pelaku pasar tidak khawatir, mengingat masih ada ruang luas untuk IHSG kembali mengalami rebound tinggi.
Baca Juga: Indeks IHSG Rontok Usai Diguncang Kebijakan Terbaru MSCI

