Penemuan Korban

Netizen kembali dikejutkan oleh kabar seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBR (10). Siswa tersebut ditemukan meninggal dunia oleh pihak keluarga dan diduga sudah mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, Kamis (29/1/2026).

Berdasarkan keterangan saksi, siswa tersebut ditemukan tewas gantung diri di dahan pohon cengkeh dekat pondok tempat ia tinggal bersama neneknya. Bocah tersebut diketahui tinggal bersama neneknya di pondok bambu yang berukuran tak lebih dari 2 x 3 meter, Desa Naruwolo.

Sebelum mengakhiri hidupnya, YBR duduk di kelas IV SD, sempat meminta uang kepada ibunya, MGT untuk membeli buku dan pena. Namun, buku dan pena yang harganya tak sampai Rp10 ribu, urung dibeli lantaran MGT mengatakan tak punya uang kepada anaknya.

MGT sendiri adalah seorang ibu tunggal yang menafkahi lima anaknya dan ia bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk mencari uang. Saat kejadian, nenek korban diketahui sedang mandi di kali yang jaraknya tak jauh dari pondok tempat YBR ditemukan meninggal dunia.

Ditemukan Meninggal Dunia

Penyelidikan Polisi

Berdasarkan keterangan saksi berinisial KD (59), penemuan jenazah YBR pertama kali diketahui saat saksi akan mengikat hewan ternak di sekitar pondok. Saat sedang menuju pondok, saksi melihat korban sudah dalam keadaan tak bernyawa dan tergantung di salah satu dahan pohon cengkeh.

Setelah menemukan jenazah YBR, Saksi langsung berlari ke jalan sambil berteriak untuk meminta pertolongan warga sekitar, hingga warga sekitar berdatangan. Warga yang melihat kondisi YBR yang tidak bernyawa dan tergantung di pohon cengkeh sangat terkejut dan langsung melaporkannya ke polisi.

Mendapatkan laporan warga, Polres Ngada yang dipimpin KBO Sat Intelkam Polres Ngada IPTU Thomas Aquino Mere segera menuju lokasi kejadian. Setibanya diokasi, petugas melakukan pengamanan tempat kejadian perkara (TKP), olah TKP, serta proses identifikasi oleh Unit Identifikasi Satreskrim Polres Ngada.

Dari hasil olah TKP pihak kepolisian menyimpulkan bahwa korban ditemukan dalam kondisi leher terikat dua utas tali nilon berwarna hijau. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa tali nilon, pakaian korban, serta selembar kertas berisi tulisan tangan menggunakan bahasa daerah Bajawa

Isi Surat Korban

Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino melalui Kepala Humas Polres Ngada, Inspektur Dua Benediktus E. Pissort, menegaskan surat tersebut diduga kuat ditulis korban sebelum mengakhiri hidup. Hal tersebut disimpulkan setelah pihak kepolisian melakukan pencocokan tulisan di beberapa buku milik korban yang segera dianalisa oleh pihak kepolisian.

Surat yang Diduga oleh YBR berisi seperti berikut ini:

Dalam bahasa Ngada:

KERTAS TII MAMA RETI
MAMA GALO ZEE
MAMA MOLO JA’O
GALO MATA MAE RITA EE MAMA
MAMA JAO GALO MATA
MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE
MOLO MAMA

Dalam bahasa Indonesia:

SURAT BUAT MAMA RETI
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi (meninggal)
Jangan menangis ya Mama
Mama saya pergi (meninggal)
Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya
Selamat tinggal Mama

Sistem Pendidikan Gratis Dipertanyakan

Kabar meninggalnya YBR (10), siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggalkan duka mendalam sekaligus kegelisahan kolektif. Tragedi ini dinilai bukan sekadar peristiwa kemanusiaan, tapi alarm keras bagi sistem pendidikan Indonesia terkait makna pendidikan gratis di Indonesia.

Pengamat pendidikan dari NTT, Dr. Vincentius Mauk, M.Pd., menilai peristiwa ini harus menjadi salah satu insiden agar para aparat refleksi bersama. Menurut dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Timor (Unimor), Kefamenanu, negara sejatinya telah memiliki fondasi kebijakan yang kuat.

Meski sudah memiliki pondasi yang kuat terkait bantuan berupa program sekolah gratis, pelaksanaannya sering tidak diterima oleh siswa yang membutuhkan. Vincentius menegaskan, program pendidikan gratis tidak boleh dimaknai sebatas pembebasan biaya SPP, namun harus memahami kondisi siswa yang kurang mampu.

Menurutnya, program pendidikan gratis seharusya benar-benar bisa membebaskan murid kurang mampu dari seluruh beban ekonomi yang bisa menghambat proses belajar. Anak-anak kurang mampu seharusnya tidak dipusingkan dengan persoalan buku, alat tulis, atau seragam yang merupakan kebutuhan dasar untuk bisa bersekolah.

Keprihatinan Mensos

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menanggapi insiden tragis yang menimpa seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menduga korban mengakhiri hidupnya karena kesulitan ekonomi sehingga tak mampu beli buku dan pena yang merupakan kebutuhan dasar murid.

Saifullah merasa prihatin dan menyampaikan duka cita, serta menyebut kejadian ini harus menjadi perhatian bersama, termasuk pemerintah pusat maupun daerah. Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menekankan pentingnya pendampingan dan penguatan data terhadap keluarga yang tidak mampu.

Menurut Gus Ipul, penguatan data terhadap keluarga miskin di seluruh wilayah sangat penting untuk menjangkau seluruh keluarga di Indonesia. Pendataan harus meliputi keluarga-keluarga yang masih berada di kategori miskin ekstrem dan kategori miskin agar pendidikan anak-anak mereka bisa terjamin.

Baca Juga: Warga Pati Gelar Syukuran Setelah KPK Tangkap Bupati Pati