Presiden Prabowo Subianto geram setelah melihat tekanan tajam yang terjadi di pasar modal akibat tekanan dari laporan MSCI yang mempertanyakan kredibilitas pasar saham Indonesia. Penurunan reputasi pasar saham Indonesia ini tercermin dari anjlok Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari secara terus menerus.
Anjloknya IHSG berujung pada pengunduran diri sejumlah petinggi inti dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Penurunan IHSG secara signifikan dinilai sudah mencoreng kredibilitas Indonesia di mata investor global yang ingin menanamkan modal dalam pembangunan negara.
Pemerintah dibawah komando Prabowo kini telah memberi sinyal tegas akan memperketat pengawasan terhadap BEI dan OJK demi memulihkan kepercayaan pasar. Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa klaim Prabowo Subianto sedang marah besar memang benar adanya.
Tekanan yang melanda pasar modal Indonesia dalam beberapa pekan terakhir diyakini sudah merugikan investor ritel domestik dan mempertaruhkan kehormatan Indonesia. Banyak data investor ritel di Indonesia yang mengalami kerugian akibat gejolak pasar dinilai akan menambah citra buruk pasar keuangan nasional.
Hashim Sampaikan Kemarahan Prabowo
Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo dalam ASEAN Climate Forum 2026 menjelaskan bahwa Prabowo sangat marah dengan gejolak pasar modal. Peristiwa gonjang-ganjing tersebut bukan hanya berdampak pada investor, tetapi juga menyangkut kehormatan negara di mata dunia selama beberapa pekan terakhir.
Hashim menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto menilai situasi tersebut sebagai hal yang sangat serius karena banyak investor ritel yang dirugikan. Kondisi seperti ini dipercaya oleh Prabowo akan membuat kepercayaan terhadap pasar modal dalam negeri menjadi taruhan besar yang harus dijaga.
Ia menyampaikan pernyataan tegas tersebut secara langsung kepada para pemangku kepentingan pasar, termasuk pejabat terkait di sektor bursa dan otoritas. Pemerintah pusat disebut tidak memiliki kepentingan pribadi terhadap pasar modal, tetapi ingin memastikan integritas lembaga dan reputasi Indonesia tetap terjaga.
Selain itu, kemarahan Prabowo juga dipicu dampak ambruknya IHSG terhadap investor ritel dengan rontoknya harga saham tentu pastinya merugikan mereka. Bahkan, kejadian itu menimbulkan kekhawatiran di mata banyak investor, khususnya pelaku pasar internasional yang menarik modal secara besar-bersaran pada pekan lalu.
Gejalolak Pasar Modal Indonesia
Menurut Prabowo, persoalan utama yang disorot adalah kurangnya transparansi data yang memicu kekhawatiran investor asing pada pasar modal dalam negeri. Hal ini dinilai membuat pasar dianggap tidak sepenuhnya terbuka, sehingga memicu kekhawatiran dari pelaku pasar hingga mendapatkan tekanan dari MSCI.
Dari pernyataan Hasyim, Prabowo mengakui bahwa beberapa pihak bahkan diminta mundur dari posisi tertentu akibat situasi pasar yang semakin bergejolak. Langkah itu dinilai sebagai konsekuensi dari kebutuhan untuk memperbaiki tata kelola dan mengembalikan kepercayaan para investor untuk kembali menanamkan modal.
Pemerintah Akan Awasi BEI
Setelah penurunan IHSG pada pekan lalu, pemerintah disebut akan memperketat pengawasan di pasar modal menyusul peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait transparansi. Pengawasan terhadap pasar modal dalam negeri tidak hanya ditujukan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), tetapi juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hidup, Hashim Djojohadikusumo, memperingatkan hal tersebut langsung kepada Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik. Hashim juga memperingatkan Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi terkait keputusan Prabowo.
Kepada para pajabat sementara pasar modal Indonesia, Hashim menegaskan, peringatan MSCI berpotensi mencoreng kehormatan negara di mata para investor asing. Di sisi lain, kondisi ini dianggap banyak merugikan investor ritel menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah kini sedang berupaya dalam memperketat pengawasan untuk menjaga kredibilitas dan kehormatan negara di mata investor asing. Hal tersebut juga disebut menjadi perhatian besar Presiden Prabowo Subianto yang ingin melihat pasar modal Indonesia kembali mendapatkan kepercayaan asing.
Tanggapan BEI

Setelah mengetahui kemarahan Prabowo atas rontoknya IHSG pekan lalu yang disebabkan oleh tekanan MSCI, BEI memberikan tanggapan terkait permasalahan tersebut. Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik menyampaikan rasa terima kasih karena mendapatkan dukungan yang luar biasa dari pemerintah.
Jeffrey mengatakan bahwa pemerintah saat ini akan memberi dukungan penuh kepada pejabat BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang baru. Ia juga mengaku akan mempercepat reformasi pasar modal yang bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan investor asing terhadap pasar modal dalam negeri.
Adapun dalam pengumuman sebelumnya, MSCI menyoroti terkait kepemilikan saham dan free float saham di Indonesia yang transparansi datanya masih dipertanyakan. Indeks global diketahui sudah memberi waktu bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk memenuhi seluruh aspek transparansi data hingga Mei 2026.
Baca Juga: Eks Menag Yaqut Ajukan Praperadilan ke PN Jakarta Selatan

