Belum lama setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) membuat perjanjian untuk melakukan gencatan senjata selama 2 minggu, ketegangan kembali muncul. Sebelumnya Iran dikabarkan akan melonggarkan peraturan di Selat Hormuz agar kapal-kapal pengangkut minyak dapat melewati jalur pelayaran tersebut dengan aman.
Tidak berselang lama setelah melakukan gencatan senjata, Iran kembali mengeluarkan ancaman kepada Amerika dan Israel akan kembali menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz. Langkah yang diambil oleh Iran ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang telah terbentuk diantara negara yang sedang berkonflik.
Selat Hormuz yang digunakan Iran untuk menekan dominasi AS adalah jalur distribusi penting disektor energi global yang mencapai angka 20%. Penutupan Selat Hormuz beresiko menggangu pasokan energi global serta akan memicu gejolak ekonomi global dengan naiknya harga barang-barang di sektor energi.
Dilansir dari The Washington Post, Kamis (9/4/2026), Iran, AS, dan Israel sebelumnya menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan itu tercapai pada menit terakhir untuk mencegah eskalasi militer lebih luas di Timur Tengah yang menyebabkan lonjakan harga energi dunia.
Alasan Iran Tutup Selat Hormuz
Ketegangan di Timur Tengah kembali muncul tidak lama setelah Iran dan Amerika Serikat berhasil membentuk perjanjian untuk melakukan gencatan senjata. Ketegangan di Timur Tengah kembali terpicu setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melontarkan ancaman keras dalam negosiasi yang sedang berlangsung.
Dalam ancamannya, Trump menyebut satu peradaban utuh Iran akan mati dalam satu malam dan mereka tidak akan pernah bisa kembali. Ancaman tersebut disampaikan Trump kepada Iran sebagai bentuk ancaman apabila Iran menolak untuk menerima kesepakatan gencatan senjata termasuk membuka Selat Hormuz.
Menanggapi ancaman yang disampaikan oleh Trump, Iran bukannya merasa tertekan namun Teheran justru menanggapinya dengan pernyataan yang seperti meledek Amerika. Iran dalam pernyataan resminya menjawab ancaman Trump dengan memperlihatkan peta Persia kuno dan bertanya kepada Trump apakah dirinya ingin membantu Iran mengembalikan kekuasaan Persia.
Wakil Presiden AS, JD Vance menyebut bahwa kondisi yang sedang terjadi di Timur Tengaj sebagai kesepakatan gencatan senjata yang rapuh. Ia bahkan menekankan pentingnya itikad baik dalam negosiasi lanjutan demi menemukan titik terang yang bisa menciptakan perdamaian dalam jangka panjang.
Israel Serang Lebanon
Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah semakin memanas ketika Israel menyatakan kesepakatan yang dibahas tidak mencakup konflik dengan Hizbullah Lebanon. Penyataan tersebut sangat berbeda dengan mediator seperti Pakistan, Prancis dan Mesir yang mendukung gencatan senjata penuh selama dua minggu di Timur Tengah.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron kembali menegaskan bahwa kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata yang telah dibahas sebelumnya sepenuhnya mencakup wilayah Lebanon. Pernyataan Israel yang menjelaskan bahwa wilayah Hizbullah tidak masuk kedalam kesepakatan menunjukkan adanya perbedaan tafsir di antara pihak yang terlibat.
Di medan pertempuran, serangan Israel ke Hizbullah dilaporkan masih terjadi di Lebanon Selatan termasuk di wilayah Tyre hingga menewaskan warga. Setidaknya lebih dari satu juta warga sipil Lebanon dilaporkan masih mengunggsi untuk menghindari rentetan serangan yang masih dilakukan oleh Israel.
Warga sipil yang sedang mengunggsi menjelaskan bahwa mereka seperti sedang terjepit dalam ketegangan yang terjadi antara Israel dan Lebanon Selatan. Beberapa warga bahkan mengaku jika mereka sudah tidak tahan lagi hidup dalam ketidakpastian ditengah perang yang telah berlangsung lama tersebut.
Trump Bela Israel

Setelah Israel melancarkan serangan ke Lebanon, Amerika Serikat menegaskan bahwa Lebanon tidak masuk kedalam kesepakatan gencatan senjata yang dibentuk sebelumnya. Trump dengan tegas mengatakan bahwa penghentian konflik di Lebanon tidak pernah dibahas dalam pertemuan yang dilakukan oleh Iran dan Amerika.
Trump menilai situasi yang sedang terjad di Lebanon sebagai bentuk eskalasi terpisah dari kesepakatan yang ia bentuk dengan Iran sebelumnya. Oleh karena itu, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak pernah menandatangani proposal perjanjian untuk melakukan gencatan senjata dengan Lebanon.
Kilang Minyak Iran Diserang
Beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata Iran dan AS terbentuk, Iran melaporkan serangan terjadi terhadap kilang minyak di Pulau Lavan. Meski serangan yang menargetkan kilang minyak milik Iran tidak menimbulkan korban jiwa, Iran melaporkan ketegangan tersebut meluas ke kawasan Teluk.
Kuwait dilaporkan sedang mengadapi serangan drone asing yang menargetkan fasilitas energi, sedangkan Uni Emrat Arab akan mengaktifkan sistem pertahanan udara. Reaksi internasional pun bermunculan, Arab Saudi menekankan pentingnya kerja sama untuk menjaga jalur Selat Hormuz tetap terbuka sesuai hukum internasional.
India menyoroti pentingnya kebebasan navigasi demi kelancaran perdagangan global, Uni Eropa bersama Jerman dan Spanyol mendorong agar gencatan senjata dilakukan. Perdana Menteri Pakistan yang menjad mediator, Shehbaz Sharif mengatakan Iran telah mengonfirmasi kehadiran dalam perundingan dengan Amerika Serikat di Islamabad.
Baca Juga: AS dan Iran Sepakat Lakukan Gencatan Senjata Selama 2 Minggu

