Posisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kini kembali menjadi sorotan media setelah dirinya dikabarkan tengah mendapatkan tekanan pemakzulan dari DPR AS. Gelombang tekanan politik semakin meningkat seiring munculnya survei terbaru yang menunjukkan dukungan publik terhadap upaya pemakzulan mulai melampaui angka mayoritas.

Berdasarkan laporan yang dipublikasi oleh Newsweek, sekitar 52 persen pemilih terdaftar mendukung langkah pemakzulan terhadap Trump, sementara 40 persen menolak. Survei ini dilakukan oleh kelompok advokasi Free Speech for People bersama Impeach Trump Again dengan margin of error 3,9 persen.

Menariknya, dukungan tidak hanya datang dari kubu oposisi saja, sebagian pemilih Partai Republik yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Trumpjuga mulai menunjukkan sikap berbeda. Fenomena seperti ini dinilai tidak lazim terjadi pada awal masa pemerintahan seorang presiden yang sebelumnya sudah pernah menjabat sebagai presiden.

Presiden Free Speech for People, John Bonifaz, membandingkan situasi ini dengan era Richard Nixon, di mana tekanan pemakzulan lebih lambat. Di sisi lain, tingkat kepuasan publik terhadap Trump tercatat menurun, angka persetujuan berada di kisaran 39 persen, sementara mayoritas responden menyatakan ketidakpuasan.

Pernyataan Anggota DPR AS

Jamie Raskin

Di Washington D.C., Amerika Serikat (AS), anggota Partai Demokrat memberi sinyal pemakzulan terhadap Presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump. Para anggota Partai Demokrat menyatakan, ancaman presiden Trump yang ingin menghancurkan seluruh peradaban Iran sebelum gencatan senjata telah melampaui batas.

Dengan semua kebijakan Trump yang dinilai kurang tepat, seluruh anggota Partai Demokrat menilai Trump seharusnya tak lagi menjabat sebagai presiden. Ketegangan diplomatik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran kini sedang memicu gejolak politik domestik yang sangat besar di Washington.

Anggota parlemen Partai Demokrat secara terbuka menyerukan pencopotan Presiden Donald Trump dari jabatannya setelah munculnya ancaman militer yang dinilai melanggar hukum internasional. Gelombang protes dari puluhan anggota Partai Demokrat dipicu karena pernyataan keras Presiden Trump yang mengancam akan menghapuskan seluruh peradaban Iran.

Retorika tersebut dianggap sebagai ancaman genosida terhadap negara yang memiliki populasi sekitar 91 juta jiwa di bawah kepemimpinan Donald Trump. Salah satu poin yang ditekankan oleh politisi Demokrat adalah bahwa ancaman genosida tidak dapat dibenarkan, bahkan sebagai bagian dari negosiasi.

Desakan dari Berbagai Kalangan

Pemakzulan Trump tidak hanya datang dari kalangan Demokrat, tetapi juga didukung oleh sejumlah tokoh, termasuk sebagian figur dari kubu konservatif. Beberapa pihak bahkan mengusulkan penggunaan Amandemen ke-25 agar jabatan Trump sebagai presiden Amerika Serikat saat ini bisa segera dicopot.

Langkah tersebut memerlukan dukungan mayoritas anggota kabinet serta wakil presiden dan sejauh ini belum ada indikasi ke arah tersebut. Raskin menegaskan, dalam situasi negara yang sedang berperang seorang presiden harus memiliki kapasitas mental yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagai pemimpin.

Diduga Alami Gejala Demensia

Anggota DPR Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat menyoroti dugaan adanya gejala penurunan kognitif atau demensia yang dinilai memengaruhi kepemimpinannya. Salah satu suara paling vokal datang dari anggota DPR Jamie Raskin, yang juga meminta dokter Gedung Putih untuk melakukan pemeriksaan.

Jamie meminta dokter Gedung Putih untuk melakukan tes kognitif terhadap Trump yang dinilai gagal memimpin Amerika di periode kedua pemerintahannya. Permintaan itu muncul setelah serangkaian pernyataan Trump terkait perang AS dengan Iran di Timur Tengah menuai kontroversi dari beberapa pihak.

Raskin menyatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir ini, Amerika telah menyaksikan pernyataan dan ledakan emosi Presiden Trump di depan publik. Trump dianggap semakin tidak koheren, mudah berubah, kasar, tidak masuk akal, dan sering mengancam meski demi kepentingan negosiasi dengan Iran.

Ia juga menyoroti postingan Trump pada Minggu Paskah yang berisi kata-kata kasar, termasuk seruan agar Iran segera membuka Selat Hormuz. Selain itu, Trump juga dikritik karena membahas isu perang di hadapan anak-anak saat acara Easter Egg Roll di Gedung Putih.

Pembelaan dari Gedung Putih

Menanggapi tudingan tersebut, Gedung Putih merilis pernyataan pembelaan yang tajam terkait isu pemakzulan Presiden Donald Trump dari jabatannya sebagai pemimpin. Juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, justru memuji ketajaman mental dan energi Trump yang kini berusia 79 tahun dalam memimpin.

Selain memberikan pembelaan terhadap Trump, Jubir Gedung Putih tersebut juga menyerang balik rekam jejak Demokrat di masa kepemimpinan Joe Biden. Gedung Putih juga menyatakan bahwa saat ini belum ada tanda-tanda pejabat AS mempertimbangkan langkah untuk melakukan pemakzulan terhadap Donald Trump.

Gedung Putih juga menyatakan bahwa Wakil Presiden, JD Vance juga tidak menunjukkan sikap yang mendukung terhadap isu pemakzulan Donald Trump. Meski begitu, Trumo di diagnosis mengalami insufisiensi vena kronis, kondisi umum pada lansia seperti memar yang terdapat dibagian tangannya.

Baca Juga: Perundingan Iran dan AS di Islamabad untuk Bahas Perdamaian