Blokade Selat Hormuz

Ketegang yang terjadi di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru setelah sebelumnya sempat membuat kesepakatan gencatan senjata. Ketegangan ini dipicu oleh gagalnya proses perundingan yang dilakukan oleh delegasi Amerika dan Iran di Islamabad, Pakista, tidak memberikan hasil positif.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump sebelumnya sempat menyatakan negosiasi di Pakistan berjalan baik dan sebagian besar poin telah disepakati. Namun, Trump lebih lanjut menjelaskan bahwa Teheran menolak syarat Amerika Serikat untuk mengalah dalam masalah program memperkaya pasokan nuklir Iran.

Atas penolakan tersebut, Trump langsung mengambil langkah cepat dengan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz yang dikuasai Iran. Melalui akun Truth Socialnya, Trump menegaskan bahwa setiap orang Iran yang menembak ke arah kapal-kapal damai, akan diledakkan sampai hancur.

Wakil Presiden AS JD Vance meninggalkan Pakistan tanpa kesepakatan setelah pembicaraan akhir pekan dengan tim yang dipimpin oleh ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Delegasi Teheran yang juga menyertakan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan pembicaraan tersebut dimaksudkan untuk memperkuat gencatan senjata dua minggu.

Cara Amerika Blokade Selat Hormuz

Blokade total terhadap seluruh aktivitas di pelabuhan Iran resmi diberlakukan militer Amerika Serikat guna meruntuhkan dominasi Teheran di Selat Hormuz. Langkah ini diambil oleh Trump setelah Washington menilai Iran sengaja memanfaatkan jalur air strategis tersebut sebagai alat pemerasan ekonomi global.

Kebijakan ini menjadi jawaban keras atas kegagalan negosiasi damai yang sebelumnya diharapkan mampu mengakhiri konflik sejak Februari lalu di Islamabad. Militer Amerika Serikat kini memegang kendali penuh untuk menentukan kapal mana yang diizinkan untuk melintas di jalur energi dunia itu.

Washington menegaskan bahwa penutupan akses jalur laut strategis dalam perdagangan energi global ini merupakan konsekuensi langsung dari keengganan Iran menghentikan program nuklirnya. Presiden Donald Trump secara terbuka menginstruksikan Angkatan Laut Amerika untuk menindak tegas setiap kapal yang nekat bekerja sama dengan Teheran.

Pemerintah Amerika Serikat menganggap seluruh pungutan yang ditarik oleh Iran selama ini sebagai tindakan ilegal yang berdampak merugikan pelayaran internasional. Selain melakukan blokade fisik, militer Amerika Serikat mulai bergerak untuk menyisir dan menghancurkan ranjau-ranjau laut yang sebelumnya dipasang oleh Iran.

NATO Menentang Langkah Trump

Sekutu aliansi NATO menolak terlibat dalam rencana blokade pelabuhan Iran yang disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump setelah diplomasi gagal. Penolakan ini sekaligus mempertegas ketegangan di dalam aliansi NATO di tengah konflik yang berlangsung enam minggu antara AS dan iran.

Sejumlah negara kunci Eropa seperti Inggris dan Prancis menegaskan bahwa mereka tak akan ikut melakukan blokade seperti yang diucapkan Trump. Negara-negara Eropa mengutuk ancaman AS soal memblokade Selat Hormuz, bahkan mereka menyebut Iran berhak membalas jika AS melakukan tindakan tersebut.

Iran Tak Gentar dengan Ancaman AS

Mohammad Bagher Ghalibaf

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah tunduk pada ancaman Trump perkara blokade Selat Hormuz. Ghalibaf sendiri adalah sosok yang memimpin delegasi Iran dalam perundingan damai dengan AS di Islamabad, Pakistan meski hasilnya berujung kegagalan.

Ghalibaf dengan tegas menyatakan jika AS memberikan perlawanan maka Iran tidak akan segan untuk membalas seluruh langkah yang dilakukan Amerika. Ia juga menyatakan bahwa pihaknya akan membiarkan AS untuk menguji tekad Iran sekali lagi sambil memberikan pelajaran yang lebih besar.

Kepala angkatan laut Iran, Shahram Irani, menyebut ancaman Trump yang akan memblokade Selat Hormuz sebagai lelucon yang dilontarkan ditengah perperangan. Para prajurit pemberani Angkatan Laut Republik Islam Iran memantau dan mengawasi semua pergerakan militer Amerika yang agresif di wilayah tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan setiap kapal militer yang mencoba untuk mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran. Setiap kapal militer yang dianggap menggangu kesepakatan gencatan senjata dua minggu dengan AS dan akan ditindak dengan keras dan tegas.

Tanggapan China

Pemerintah China menyebut langkah Amerika untuk memblokade Selat Hormuz pascaperundingan di Islamabad yang gagal menghasilkan kesepakatan, tidak akan menyelesaikan masalah. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun menjelaskan, akar penyebab gangguan Selat Hormuz adalah konflik militer yang dilakukan Amerika.

Agar masalah ini bisa diselesaikan dengan cepat, Jiakun menegaskan bahwa Amerika harus segera berhenti melakukan serangan ke Iran sesegera mungkin. Guo Jiakun meminta agar semua pihak perlu tetap tenang dan menahan diri dan China disebut akan terus memainkan peran konstruktif.

Terkait dengan pembelian minyak dari negara lain, Guo Jiakun menyatakan bahwa Tiongkok siap untuk bekerja sama dengan negara manapun. Namun, untuk menyelesaikan masalah ini secara mendasar, yang perlu dilakukan pertama dan terutama adalah memulihkan perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk dan Timur Tengah.

Baca Juga: DPR AS Desak Pemakzulan Trump karena Dianggap Alami Demensia