Pemerintah mulai mempercepat proses pemulihan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 menyebabkan kerusakan di sejumlah daerah. Langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna memastikan kebutuhan masyarakat dapat segera terpenuhi serta aktivitas kembali normal.
Sejumlah pejabat pemerintah diturunkan langsung ke lokasi yang terdampak bencana gempa untuk melakukan pemantauan terhadap penanganan darurat dan distribusi bantuan. Fokus utama saat ini adalah menyelamatkan warga terdampak, pemenuhan kebutuhan pengungsi, serta memastikan bantuan logistik dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak.
Selain penanganan darurat, pemerintah juga mulai menyiapkan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana untuk memastikan seluruh aktivitas masyarakat bisa kembali dipulihkan. Berbagai infrastruktur penting seperti jalan, jembatan, jaringan air bersih, serta fasilitas pelayanan publik menjadi prioritas agar aktivitas masyarakat kembali normal.
Pemerintah menegaskan langkah yang diambil untuk membangun kembali NTT akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan hingga situasi kembali seperti semula. Infrastruktur yang rusak akan dibangun kembali dengan standar yang lebih kuat dan tahan gempa sehingga mampu mengurangi risiko kerusakan di masa depan.
Kementerian PU Percepat Pemenuhan Air Bersih
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengambil langkah untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat terdampak gempa berkekuatan M7,7 di NTT. Langkah tersebut menjadi prioritas pemerintah, terutama di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, yang membutuhkan dukungan layanan dasar setelah diguncang gempa dahsyat.
Dukungan air bersih yang disiapkan Kementerian PU akan diarahkan kepada sekitar 7.000 warga yang tinggal di delapan desa Pulau Palue. Pemerintah menyiapkan pasokan darurat, sekaligus mencari sumber air tambahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang selama proses pemulihan pascabencana.
Selain menyediakan air darurat, Kementerian PU juga menyiapkan sejumlah sarana pendukung untuk memperkuat distribusi kepada seluruh masyarakat yang terdampak gempa. Empat tandon berkapasitas 1.200 liter masing-masing dikirim untuk menambah ketersediaan air bersih di wilayah yang mengalami gangguan layanan akibat gempa.
Kementerian PU juga sudah menyiapkan survei geolistrik untuk keperluan mencari potensi sumber air tanah yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan sarana air minum dan jaringan perpipaan di sejumlah wilayah terdampak gempa untuk mempercepat pemulihan layanan dasar.
Komisi X DPR Minta Percepat Pembangunan Sekolah
Menanggapi bencana gempa di NTT, komisi X DPR RI meminta pemerintah mempercepat perbaikan sekolah yang rusak akibat gempa di NTT. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting agar keselamatan seluruh pelajar terjamin, sekaligus memastikan proses pembelajaran tetap berjalan normal seperti biasanya.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani meminta pemerintah pusat untuk segera mempercepat pencairan anggaran perbaikan sekolah terdampak. Menurutnya, dukungan bagi guru dan siswa juga diperlukan agar pemulihan pendidikan berjalan cepat serta tidak menimbulkan dampak berkepanjangan bagi anak-anak.
Komisi X DPR RI mendorong pemerintah untuk melakukan pendataan secara menyeluruh, terhadap tingkat kerusakan di setiap sekolah yang terdampak gempa. Bangunan yang dinilai tidak aman tidak boleh digunakan sebelum dinyatakan layak, sementara ruang belajar sementara perlu disediakan agar tidak menggangu proses belajar-mengajar.
Untuk pembangunan jangka panjang, sekolah yang rusak disarankan agar tidak sekadar diperbaiki seperti kondisi sebelumnya, tetapi pembangunan harus lebih diperkuat. Pemerintah diminta menerapkan standar konstruksi tahan gempa dalam setiap pembangunan sehingga fasilitas pendidikan menjadi lebih aman dalam menghadapi bencana serupa.
TNI AU Siapkan 6 Pesawat Logistik

TNI Angkatan Udara (AU) telah menyiagakan enam pesawat angkut untuk mempercepat pengiriman bantuan logistik kepada masyarakat terdampak gempa di NTT. Pengerahan armada telah dilakukan sejak Senin 17 Agustus 2026, untuk memastikan kebutuhan pangan dan bantuan dasar segera menjangkau wilayah bencana.
Keenam pesawat yang disiagakan terdiri dari dua C-130J Super Hercules, satu C-130 Hercules, satu Airbus A400M, serta dua Boeing 737. Seluruh armada tersebut telah disiapkan untuk menjangkau sejumlah titik terdampak sekaligus menyesuaikan kebutuhan distribusi bantuan yang terus berubah di lapangan.
Sejumlah penerbangan telah membawa bantuan dalam jumlah besar menuju wilayah terdampak, salah satu C-130J yang sudah mengangkut 13.500 kilogram logistik. Pesawat lainnya membawa 13.563 kilogram bantuan menuju Maumere, sementara A400M mengirim dilaporkan sudah mengirimkan 20.779 kilogram bantuan menuju Labuan Bajo.
TNI AU memastikan seluruh armada pengangkut logistik akan tetap disiagakan selama bantuan masih dibutuhkan oleh masyarakat yang terdampak gempa NTT. Pengiriman akan dilakukan secara bertahap, hingga kondisi kembali kondusif dan proses pemulihan masyarakat berjalan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
Siapkan Nakes
Selain menyiapkan kendaraan logistik, TNI AU juga telah mengirim tim tenaga kesehatan (Nakes) untuk membantu masyarakat terdampak gempa di NTT. Nakes diberangkatkan dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Selasa 18 Agustus 2026 untuk memberikan pelayanan medis kepada warga NTT.
Tim kesehatan yang dikirimkan untuk membantu warga NTT dipimpin langsung oleh Komandan Batalyon Kesehatan Denmabesau Letkol Kes dr. Ahmad Hendra. Personel membawa berbagai peralatan medis serta obat-obatan untuk menunjang pelayanan kesehatan dan penanganan masyarakat terdampak selama berada di lokasi gempa.
Baca Juga: Viral! Aksi Demo Mahasiswa UI di Bundara HI Jakarta

