Ledakan di Dermaga Venezuela

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memasuki fase paling menegangkan hingga menjadi perhatian global setelah AS memulai serangan pertama. Awal ketegangan ini ditandai dengan rentetan sanksi yang dijatuhkan, penetapan kelompok teroris, operasi militer, bahkan ancaman blokade kapal pengangkut minyak.

Konflik ini sudah berakar sejak Presiden AS, DonaldTrump kembali ke Gedung Putih pada awal tahun 2025, dimana pemerintahan saat itu membalikkan pendekatan. Berbeda dengan pendekatan di era Joe Biden, Trump lebih memilih garis keras terhadap pemerintahan presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Ketegangan diantara keduanya semakin meningkat sejak akhir tahun 2025, dimana AS meningkatkan operasi militer di wilayah Karibia dan Pasifik Timur. Wilayah udara disekitar Venezuela dan jalur logistik kapal tanker minyak Venezuela juga di blokade sesuai sanksi yang diberikan kepada Venezuela.

Terbaru, ketegangan antara AS dan Venezuela semakin memanas setelah AS memutuskan untuk melancarkan serangan pertamanya ke wilayah darat negara Venezuela. Serangan tersebut memantik eskalasi terbaru dalam konflik kedua negara, setelah Trump melancarkan rentetan serangan ke kapal-kapal Venezuela di Karibia dan Pasifik.

Ledakan di Daratan Venezuela

Konflik antara AS dan Venezuela terkait langkah AS menyatakan akan memerangi transaksi narkoba yang marak di Venezuela memasuki babak baru. Baru-baru ini Amerika Serikat dikabarkan sudah melakukan konfrontasi pertama secara terbuka dengan menjatuhkan sebuah bom ke wilayah darat negara Venezuela.

Suara ledakan besar terdengar di area dermaga Maracaibo, Venezuela yang disebut AS sebagai salah satu wilayah pabrik yang memproduksi Kokain. Serangan itu diyakini menargetkan geng Venezuela, Tren de Argua, namun tidak ada seorang pun yang berada di lokasi yang dibom.

Berdasarkan rekaman yang tersebar di media sosial, kerusakan yang diakibatkan terlihat sangat parah meski belum ada komentar resmi dari pemerintah Venezuela. Beberapa pengamat menyatakan jika Trump sebelumnya memang pernah mengisyaratkan bahwa AS akan menghancurkan fasilitas tempat produksi kokain terbesar di Venezuela.

Tanggapan Presiden Kolombia

Ditengah ketegangan AS-Venezuela, Presiden Kolombia, Gustavo Petro mengungkapkan jika AS memang sudah melakukan pengeboman ke fasilitas yang diduga sebagai pabrik kokain. Petro menjelaskan jika langkah tersebut diambil oleh AS ditengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang terjadi antara Washington dan Caracas.

Dilansir dari AFP pada Rabu, 31 Desmber 2025, Petro menyatakan jika serangan tersebut terjadi sehari setelah Trump mengumumkan akan menyerang Venezuela. Meski belum ada konfirmasi lebih lanjut dari pemerintah Venezuela, pernyataan Trump diduga kuat sebagai pemicu peluasan serangan AS ke Venezuela.

Klaim Donald Trump

Donald Trump

Terkait Ledakan yang tejadi di wilayah pelabuhan Venezuela, Trump mengklaim jika AS memang sudah melakukan penyerangan yang menargetkan pabrik kokain. Dalam pernyataannya, Trump menyatakan bahwa serangan terbaru AS sudah menghancurkan seluruh area dermaga Venezuela yang diduga sebagai tempat memuat kokain.

Trump menjelaskan jika serangan AS sudah memicu ledakan besar yang membuat lokasi di sepanjang dermaga itu sudah tidak bisa beroperasi. Kepada wartawan, Trump menjelaskan jika targetnya dalam serangan tersebut untuk menghancurkan seluruh fasilitas di pesisir yang digunakan untuk menyediakan narkotika.

Serangan tersebut menandai serangan darat pertama AS di negara Amerika Latin sejak kampanye tekanan Washington terhadap Caracas sejak 4 bulan lalu. Klaim Trump muncul ditengah gencarnya kampanye tekanan AS terhadap Venezuela dengan menargetkan operasi penyeludupan narkoba dari Venezuela ke Amerika Serikat.

Serangan terbaru dari AS juga menandai pergerseran taktik yang digunakan AS, dari operasi perairan internasional menuju serangan berbasis wilayah daratan. Setidaknya sejak AS pertama kali melancarkan serangan pada bulan September, AS sudah melancarkan 30 serangan di wilayah perairan Karibia dan Pasifik Timur.

Dugaan Keterlibatan CIA

Meski Trump mengklaim sudah melakukan serangan ke wilayah pelabuhan Venezuela, ia tidak menjelaskan secara spesifik lembaga pemerintah AS yang terlibat. Saat ditanyai apakah Badan Intelejen Pusat AS (CIA) terlibat dalam operasi tersebut, Trump juga enggan memberikan jawabannya kepada awak media.

Ia menyatakan bahwa dirinya tidak ingin membeberkan dalang dibalik serangan tersebut, namun ia tahu persisi siapa yang sudah melakukan serangan. Tanggapan tersebut semakin memicu spekulasi luas publik, apakah operasi tersebut bagian dari misi rahasia yang dilakukan oleh intilijen Amerika Serikat.

Beberapa pengamat menjelaskan jika operasi tersebut bukan operasi militer terbuka yang biasa langsung diumumkan oleh Pentagon secara resmi kepada media. Berdasarkan sumber internal AS, CIA sudah melancarkan serangan drone pada awal Desember 2025 dengan menargetkan fasilitas pelabuhan di pesisi Venezuela.

Dugaan publik semakin kuat setelah Trump sebelumnya sempat menyatakan jika ia sudah memberikan kewenangan kepada CIA untuk melakukan operasi rahasia. Strategi tersebut dipercaya sebagai cara AS untuk menekan rezim Maduro dan secara karakteristik polanya lebih selaras dengan pola kerja CIA.

Baca  Juga: Badai Terjang Replika Patung Replika di Brazil Hingga Roboh