Penurunan IHSG

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah setelah perdagangan saham Kamis, 29 Januari 2026 kembali dibuka Bursa Efek Indonesia (BEI). Penurunan signifikan indeks IHSG ini diperkirakan karena pengumuman yang disampaikan Morgan Stanley Capital International (MSCI) Pada Rabu, 28 Januari 2026.

Berdasarkan data dari beberapa sekuritas, IHSG ditutup dengan penurunan sebanyak 7,35% yang disertai dengan aksi jual besar-besaran oleh investor asing. Dalam data perdagagan saham Rabu, 28 Januari 2026, investor asing tercatat menjual beberapa saham besar di Indonesia senilai Rp 6,12 triliun.

Berdasarkan data Saham-saham yang paling banyak dijual oleh investor asing antara lain saham BBCA, BMRI, BBRI, TLKM dan ANTM. Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menilai jika volatilitas IHSG diprediksi masih tetap tinggi dalam jangka pendek.

Penurunan indeks IHSG secara signigikan seiring asar melakukan re-pricing atas risiko terkait pengumuman “interim freeze” MSCI terhadap indeks saham Indonesia. Kebijakan ini meningkatkan kekhawatiran investor global terhadap risiko jangka menengah, terutama penurunan bobot Indonesia di MSCI EM maupun skenario downgrade.

Goldman Turunkan Peringkat Saham Indonesia

Analis Goldman Sachs Group Inc meperingatan potensi penurunan peringkat saham Indonesia menjadi underweight setelah MSCI mengeluarkan kebijakan terhadap pasar saham Indonesia. Kekhawatiran tersebut terkait kelayakan investasi yang memicu arus keluar lebih dari US$13 miliar jika peringkat pasar diturunkan menjadi frontier.

Bank Wall Street tersebut memperkirakan jika dalam skenario ekstrem, indeks saham di Indonesia bisa diklasifikasikan ulang dari pasar negara berkembang. Dana pasif mengikuti indeks MSCI bisa menjual sampai US$7,8 miliar dan arus keluar lanjut ansebesar US$5,6 miliar.

Kekhawatiran investor asing terhadap saham Indonesia juga dapat dipicu jika FTSE Russell meninjau ulang metodologi dan status free-float-nya. Penjualan pasif dari dana asing lebih lanjut bisa dianggap sebagai perkembangan yang menambah beban dan akan menghambat kinerja pasar saham.

Analis menegaskan bahwa manajer dana aktif regional memiliki posisi overweight di pasar, beban dan kemungkinan penurunan status, ditambah dengan meningkatnya tekanan pasar. Hal tersebut meningkatkan potensi penurunan likuiditas, kemungkinan akan mendorong investor long-only menyesuaikan kembali portofolio mereka yang memicu aliran spekulatif dari hedge fund.

BEI Lakukan Trading Halt

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan sementara perdagangan saham (trading halt) pada Rabu (28/1/2026) pukul 13:43 WIB. BEI memutusan untuk memberlakukan Trading Halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan hingga 8% akibat kebijakan baru MSCI.

Dalam keterangan resminya, BEI menyatakan perdagangan akan kembali dilanjutkan pada pukul 14:13.13 waktu JATS tanpa perubahan jadwal perdagangan. Langkah tersebut diambil oleh BEI untuk menjaga agar perdagangan saham di bursa efek tetap berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien.

Pada perdagangan Kamis (29/1/2026), Bursa Efek Indonesia (BEI) buka suara terkait Trading Halt yang dilakukan pada bursa saham. Kebijakan tersebut diberlakukan BEI lantaran IHSG anjlok 8 persen ke level 7,654.66 pada perdagangan saham Kamis (29/1).

Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menjelaskan, perdagangan akan dilanjutkan pukul 09:56:01 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal. Kautsar menjelaskan, BEI melakukan upaya tersebut dalam rangka menjaga perdagangan saham sesuai dengan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas.

Tanggapan Menkeu Purbaya

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi kemarin atas tekanan dari MSCI. Purbaya yakin jika IHSG bisa berbalik arah, dan meminta pelaku pasar tidak takut, terlebih Pemerintah serius membenahi ekonomi dalam negeri.

Purbaya mengomentari pengumuman dari MSCI yang menjadi penyebab anjloknya IHSG dan ia yakin anjloknya IHSG tanpa dipengaruhi oleh sentimen lainnya. Ia juga yakin bahwa Indonesia mampu memenuhi seluruh persyaratan yang diajukan oleh MSCI hanya dalam beberapa bulan ke depan.

Emas Cetak ATH Terbaru

Emas Antam

Ditengah anjloknya IHSG, harga emas global melanjutkan penguatan dan kembali menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa pada Kamis (29/1) pagi. Pergerakan harga emas global cukup signifikan mendekati angka US$5.600 per troy ounce dalam perdagangan Kamis, 29 Januari 2026.

Kenaikan harga emas global melanjutkan tren positif pergerakan emas pada perdagangan di hari sebelumnya yang mencetak all time high (ATH). Dilansir dari laman Logam Mulia, harga emas Antam satu gram dibanderol dengan harga Rp3.136.000 dari sebelumnya Rp2.968.000.

Pergerakan harga emas dunia dan Antam ini sejalan dengan dinamika pasar logam mulia global dan fluktuasi nilai tukar dari rupiah. Bagi masyarakat awam yang ingin berinvestasi emas, sangat disarankan untuk mencermati harga emas sebelum melakukan pembelian untuk investasi maupun koleksi.

Penguatan harga emas juga dipicu oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, sekaligus reaksi pasar terhadap keputusan terbaru The Fed soal suku bunga. Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga tetap, mengingat inflasi yang masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang solid, membuat pasar menunggu sinyal terbaru.

Baca Juga: Wacana Redenominasi Rupiah Era Jokowi Kembali Dibahas Menkeu