Menhan AS

Departemen Pertahanan milik Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal Pentagon mengajukan tambahan anggaran sebesar US$ 200 miliar (Rp 3 kuadriliun). Pentagon meminta anggaran tambahan sebesa US$ 200 miliar untuk mendukung seluruh operasi militer terkait perperangan yang terjadi di Timur Tengah.

Angka yang diajukan oleh Pentagon untuk membiayai perang Iran tergolong sangat besar dan berpotensi memicu perdebatan panjang di Kongres AS. Kongres AS memiliki hak penuh dalam menyetujui setiap pengeluaran anggaran negara termasuk pembiayaan perang dan penggunaan senjata di Timur Tengah.

Usulan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global serta kebutuhan pendanaan militer yang terus bertambah ditengah masa perperangan dengan Iran. Melansir dari AP, seorang pejabat senior pemerintahan yang tidak disebutkan identitasnya menyampaikan permintaan anggaran tersebut telah diajukan kepada Gedung Putih.

Dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis, 19 Maret 2026, Menteri Pertahanan Pete Hegseth tidak memberikan konfirmasi langsung terkait angka tersebut. Ia menyebut nilai anggaran yang diajukan oleh Pentagon masih bersifat dinamis dan dapat mengalami perubahan sesuai kebutuhan operasional di lapangan.

Permintaan Menhan AS

Pete Hasegth

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth mengatakan bahwa tidak ada jangka waktu untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran. Untuk memastikan persediaan senjata dan amunisi mencukupi dalam perang di Timur Tengah, Pentagon minta tambahan dana untuk keberlangsungan perang.

Pete menyatakan tidak ingin menetapkan jangka waktu yang pasti dalam konferensi pers dan menambahkan bahwa pihaknya berada di jalan yang benar. Ia menegaskan, Presiden Donald Trump yang akan memutuskan kapan harus berhenti menyerang Iran yang berambisi untuk menciptakan senjata nuklirnya sendiri.

Dirinya juga menanggapi laporan Pentagon yang meminta $200 miliar atau Rp 3,3 kuadriliun dana tambahan dari Kongres untuk membiayai konflik. Mengenai $200 miliar, Pete menyatakan bahwa angka itu bisa berubah kapan saja dan jelas dibutuhkan uang untuk membunuh orang jahat.

Perwira militer AS berpangkat tinggi, Jenderal Dan Caine, melakukan pembicaraan bersama Hegseth memberikan rincian tentang senjata yang digunakan melawan Iran. Ia mengatakan bahwa helikopter AH-64 Apache digunakan di Irak untuk menargetkan kelompok milisi yang bersekutu dengan Iran di Selat Hormus.

Inisiatif Trump

The Washington Post melaporkan bahwa Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa permintaan untuk menambahkan anggaran ini tidak semata-mata berkaitan dengan Iran. Trump menilai situasi ketegangan geopolitik global saat ini semakin tidak menentu sehingga menuntut kesiapan militer Amerika agar bisa lebih kuat.

Menurutnya anggaran tembahan untuk pertahanan bisa dianggap sebagai investasi penting bagi Amerika Serikat dalam menjaga keamanan nasional dari intervensi asing. Ia menilai anggaran darurat tersebut merupakan biaya yang relatif kecil jika dibandingkan dengan pentingnya menjaga kesiapan militer Amerika Serikat (AS).

Dengan disetujuinya anggaran tambahan untuk keperluan militer, Trump berharap agar militer AS lebih siap menghadapi ancaman global di masa depan. Meskipun Partai Republik saat ini menguasai DPR dan Senat, dukungan terhadap anggaran besar untuk militer tidak bisa disetujui dengan mudah.

Sejumlah anggota dari kalangan konservatif dikenal memiliki sikap yang ketat terhadap pengeluaran negara terutama dalam kondisi ditengah-tengah ketegangan dengan Iran. Mereka cenderung untuk lebih berhati-hati dalam menyetujui permintaan tambahan anggaran, terutama jika tidak disertai dengan perencanaan yang jelas dan terukur.

Tanggapan Partai Demokrat

Partai Demokrat diperkirakan mengambil sikap kritis terhadap usulan tersebut dengan menuntut penjelasan rinci mengenai tujuan, strategi, serta alokasi penggunaan dana yang diajukan. Tanpa transparansi yang memadai, peluang persetujuan dari kubu oposisi dinilai akan semakin kecil terhadap permintaan angaran tambahan militer.

Ketua subkomite pengawasan anggaran pertahanan DPR dari Partai Republik, Ken Calvert, menyatakan kebutuhan tambahan anggaran militer sebenarnya telah diperkirakan sebelumnya. Pembahasan dilakukan terutama untuk mengisi kembali persediaan amunisi ditengah perkembangan konflik yang terjadi saat ini menambah kebutuhan biaya secara signifikan.

Perdebatan di Kongres

Mengenai permintaan Pentagon untuk meningkatkan anggaran militer dimasa perang hingga US$ 200 miliar diperkirakan akan melalui perdebatan yang panjang di Kongres. Untuk meloloskan usulan tersebut, diperlukan dukungan lintas partai melalui kesepakatan politik yang kompleks tanpa kompromi antara Partai Republik dan Demokrat.

Apabila ada pihak yang memprotes keputusan untuk memberikan persetujuan anggaran berpotensi mengalami hambatan signifikan mengingat kondisi finansial AS saat ini. Jika disetujui, tambahan anggaran sebesar US$ 200 miliar akan meningkatkan total anggaran tahunan Pentagon yang saat ini telah melampaui US$ 800 miliar.

Selain itu, pengeluaran tambahan ini juga berpotensi memperlebar defisit anggaran federal yang diproyeksikan mencapai US$ 1,9 triliun pada tahun ini. Ketua DPR Mike Johnson menyebut situasi global saat ini sebagai periode yang penuh risiko dan menilai kebutuhan pendanaan pertahanan harus dipenuhi

Hal tersebut demi menjaga keamanan nasional, namun Johnson juga mengakui perlunya kajian lebih lanjut sebelum memberikan dukungan terhadap usulan tersebut. Di sisi lain, sejumlah anggota parlemen menilai prioritas anggaran seharusnya tidak hanya difokuskan pada sektor pertahanan saja sebab masih ada kebutuhan domestik.

Baca Juga: Misteri Kabar Kematian Perdana Menteri Israel yang Viral