Wabah campak saat ini sedang marak menyerang beberapa wilayah di Indonesia, hingga Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengumumkan ada 46 wilayah di Indonesia yang terdampak. Kemenkes menjelaskan bahwa angka tersebut menyebabkan penyebaran kasus campak di Indonesia sudah mendekati Kejadian Luar Biasa (KLB) wabah penyakit campak.
Kemenkes menduga penyebaran campak yang signifikan ini muncul karena adanya tren penurunan imunisasi campak yang sudah dilakukan sejak tahun 2023. Dalam catatan sejarah kesehatan di Indonesia, penyakit campak bukanlah penyakit baru dan bisa berkembang dengan cepat seiring bertumbuhnya peradaban manusia.
Selain itu, campak juga menjadi salah satu penyakit yang penyebarannya bisa terjadi sangat cepat dan menjadi yang paling berbahaya di masanya. Kemenkes mengungkapkan bahwa tren peningkatan kasus campak di Indonesia semakin meningkat, dan Kemenkes akan memastikan pihaknya selalu mengambil langkah tepat.
Untuk mencegah penyebaran campak terjadi dengan cepat, pemerintah dari berbagai daerah yang terdampak akan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Langkah ini dinilai sangat tepat jika melihat pertumbuhan angka wabah campak yang terus meningkat dengan pesat di Indonesia belakangan ini.
Penularan dan Gejala Campak
Penyakit Campak (measles) adalah sebuah penyakit yang terjadi karena adanya infeksi virus akun yang bisa menular dengan mudah melalui udara. Virus campak bisa masuk dengan mudah kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan hingga akhirnya menyebar luas ke seluruh tubuh manusia.
Selain menyebar melalui udara, campak juga bisa menular melalui kontak langsung dan melalui cairan tubuh orang yang menderita penyakit campak. Penderita campak biasanya akan menjalani masa inkubasi khusus yang berlangsung selama 10-14 hari setelah ia terjangkit penyakit yang satu ini.
Meski belum terjangkit campak, seseorang yang tidak menunjukkan gejalanya namun bisa menularkan virus ini ke orang lain juga bisa menjalani masa inkubasi. Masa inkubasi bertujuan untuk membunuh seluruh virus yang menjadi penyebab campak dalam tubuh seseorang agar tidak menyebar ke orang lain.
Gejala campak sendiri tidak muncul langsung namun akan muncul secara bertahap dan bisa berlangsung selama beberpa hari sejak terjangkit virus. aUntuk gejala awal campak biasanya akan dimulai dengan gejala demam tinggi, batuk kering, flu, tubuh terasa lemas, bahkan sensitif terhadap cahaya.
Penjelasan Kemenkes
Kemenkes RI menjelaskan saat ini sudah ada 46 wilayah di seluruh Indonesia yang menjadi titik penyebaran virus campak secara signifikan. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes, Prima Yosephine menjelaskan bahwa kondisi ini bisa saja dipicu karena menurunnya cakupan imunisasi secara drastis dalam 3 tahun terakhir.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2022 jumlah vaksin imunisasi campak MR1 yang diberikan kepada anak berusia 9 bulan sebesar 102,2 persen. Jumlah vaksin yang disalurkan ke anak-anak Indonesia semakin berkurang secara signifikan hingga tahun 2024 dengan jumlah cakupan hanya sebanyak 92%.
Lalu hingga 24 Agustus 2025, nilai cakupan vaksin campak yang diberikan ke anak-anak di Indonesia hanya sebanyak 45,1 persen saja. Dengan menurunnya angka vaksinisasi campak di Indonesia, hal tersebut bisa menyebabkan lebih banyak orang bisa tertular penyakit campak dengan mudah.
Apabila angka kasus penyebaran penyakit campak di Indonesia terus meningkat, Kemenkes RI memperkirakan Indonesia mungkin saja akan mendekati status KLB. Apabila tren peningkatan wabah campak tidak menurun, Kemenkes memastikan pihaknya akan segera mengambil langkah cepat yang berguna untuk menekan angka penyebaran.
Catatan Korban Campak
Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKP2KB), mencatat hingga pekan ketiga bulan Agustus, sudah tercatat setidaknya 1944 kasus campak. Dari data tersebut kebanyakan balita dan anak-anak menjadi korban campak yang dimulai sejak Januari 2025, dimana mengalami lonjakan yang pesat.
Angka tersebut tergolong tinggi apa bila melihat jumlah korban campak di tahun sebelumnya yang hanya mencapai 319 kasus gejala campak. Angka yang melonjak secara pesat diperkirakan karena kurangnya pemahaman orang tua terhadap vaksin yang bermanfaat untuk meningkatkan sistem immune anak.
Beberapa orang tua di berbagai wilayah menjelaska bahwa mereka maupun anaknya belum mendapatkan vaksin campak karena takut terhadap efek sampingnya. Selain itu, kondisi karantina akibat pandemi covid-19 di Indonesia sebelumnya juga menghambat mereka untuk bisa menerima imunisasi campak dari puskesmas.
Tenaga kesehatan puskesmas membenarkan pernyataan masyarakat takut divaksin, karena berdasarkan fakta lapangan masih banyak orang tua yang tidak memvaksin anaknya. Para orang tua takut memberikan vaksin ke anak bahkan ada yang menolaknya karena mempercayai statement yang menyebutkan vaksin itu haram.
Langkah Pemerintah
Untuk bisa menurunkan jumlah kasus campak di Indonesia, pemerintah tengah berupaya keras untuk melaksanakan program vaksinisasi dan sosialisasi pentingnya vaksin. Agar seseorang bisa dinyatakan aman dari penyakit campak, setidaknya ia harus mendapatkan cakupan imunisasi lengkap hingga 95 persen sejak anak-anak.
Pola pikir yang menyatakan vaksin haram maupun vaksin merupakan penyebab sebuah penyakit bisa menyebar dengan cepat harus dihapus dari masyarakat. Untuk bisa melakukannya, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk menghapus pola pikir yang sepenuhnya salah dari seluruh masyarakat.
Baca Juga: Waspada! Kasus Covid-19 di Asia Tenggara Kembali Melonjak