Superflu

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkap adanya kasus penyebaran kasus influenza A(H3N2) Subclade K atau yang dikenal sebagai super flu. Kasus super flu menjadi alasan di balik lonjakan kasus flu yang terjadi di berbagai negara, temasuk yang terjadi di Indonesia.

Lonjakan tertinggi yang dilaporkan terjadi di Amerika Serikat (AS) dengan peningkatan kasus yang mencapai dua kali lipat hanya dalam sepekan. Direktur Center for Infectious Disease Research dan Policy, University of Minnesota, Dr Michael Osterholm menjelaskan jika varian ini cukup berbeda.

Di Indonesia, berdasarkan data yang disampaikan Kemenkes, penyebaran virus super flu ini sudah terdeteksi di 8 provinsi yang ada di Indonesia. Diantara 8 provinsi yang terdeteksi penyakit super flu, jumlah kasus terbanyak terdapat di wilayah Jawa Timur, Kalimatan Selatan, dan Jawa Barat.

Berdasarkan 843 spesimen positif yang terdeteksi sebagai penyakit influenza, setidaknya sudah ada 348 sampel yang dilakukan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS). Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, seluruh varian yang sudah terdeteksi adalah varian virus yang sudah dikenal dan bersikulasi secara global.

Mengenal Super Flu

Penelitian Flu

Meningkatnya jumlah laporan kasus super flu di beberapa negara kini sudah menjadi perhatian serius dalam dunia kesehatan di seluruh negara. Bedasarkan kabar yang disampaikan masyarakat yang terjangkit virus ini, flu ini terasa lebih berat, bertahan lama, dan bisa menimbulkan kelelahan.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Piprim Basarah Yanuarso menjelaskan jika super flu sebenarnya bukan diagnosis medis. Super flu adalah terminologi medis atau istilah yang sering dipakai oleh orang awak untuk menggambarkannya adalah infeksi influenza A H3N2 subclade K.

Virus influenza A H3N2 yang sudah bermutasi ini dilaporkan lebih sulit dikenali oleh sistem imun manusia, meski orang tersebut sudah divaksinisasi. Ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Andrew Pekosz,Ph.D menyatakan hal yang sama dengan Dr. Piprim.

Menurutnya, virus bisa bermutasi dengan sangat cepat dan dengan kecepatan mutasinya, hal tersebut bisa memberikn keuntungan tersendiri bagi virus tersebut. Salah satu jenis H3N2 muncul dengan mutasi yang memungkinkan virus tersebut untuk menghindari sistem immune manusia yang didapatkan dari vaksin.

Gejala Awal Virus

Para peneliti menyebutkan jika secara umum gejala super flu ini mirip dengan virus influenza A musiman yang biasa dialami masyarakat. Perbedaan yang mungkin bisa dirasakan seperti keluhan yang lebih berat dan muncul secara mendadak seperti demam tinggi, nyeri dan kelelahan.

Dr. Piprim menambahkan, virus ini bisa saja menjadi resiko komplikasi apabila tidak ditangani dengan tepat terutama kepada orang yang rentan. Perlu dicatat jika gejala awal dari super flu ini seperti Covid-19 atau jenis infeksi virus pada bagian pernafasan lainnya.

Langkah Mencegah Super Flu

Jika mengalami gejala flu parah yang dibarengi dengan gejala lainnya, para ahli medis menekankan betapa pentingnya untuk tidak menganggap remeh. Virus super flu ini awalnya memang terlihat seperti gejala pilek biasa, namun gejalanya akan segera muncul setelah virus mulai bermutasi.

Langkah awal yang bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah gejala bertambah parah adalah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Penyakit menular seperti super flu ini biasanya bisa menyerang jika seseorang kurang beristirahat, tidak menjaga asupan cairan dann tidak membatasi kontak fisik dengan orang lain.

Jika sudah mengalami gejala super flu, mengonsumsi obat-obatan yang mengandung paracetamol dan ibuprofen bisa membantu meringankan gejala yang dirasakan. Meski bisa membantu meringankan gejala, masyarakat diharapkan untuk tidak mengonsumsi paracetamol dengan dosis berlebihan, karena hal tersebut bisa membahayakan seseorang.

Ahli medis menyarankan masyarakat yang mengalami flu yang disertai demam tinggi untuk tetap dirumah setelah gejala membaik selama 24 jam. Untuk mencegah penyebaran yang semakin meluas, masyarakat diharapkan melakukan tes cepat yang sudah tersedia untuk mendeteksi virus influenza A,B.

Virus Sudah Masuk ke Indonesia

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat setidaknya sudah ada 62 kasus infeksi virus influenza A H3N2 atau yang dikenal super flu. Temuan tersebut menjadi perhatian serius bagi tenaga medis karena sudah terdeteksi melalui sistem survelans nasional hingga akhir bulan Desember 2025.

Juru Bicara Kemenkes Ri, drg Widyawati menjelaskan bahwa puluhan kasus ini bukan berasal dari laporan sporadis melainkan dari hasil pemantauan. Angka yang dilaporkan oleh Kemenkes RI menunjukkan langkah aktif pemerintah Indonesia dalam melakukan pengawasan fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia.

Berdasarkan penjelasan Widyawati, temuan 62 kasus influenza A H3N2 subclade K berasal dari 88 sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI). Sentinel ini sudah menyebar dan diatasi puskesmas, balai kesehatan, hingga rumah sakit di berbagai wilayah.

Pemerintah juga sudah menyediakan sebuah laboratorium dengan standar BSL-3 yang menandakan langkah serius pemerintah untuk mengidentifikasi virus super flu. Langkah ini akan dilakukan dengan menyertakan tingkat keamanan yang tinggi dan dibarengi dengan tingkat akurasi yang tinggi terutama untuk patogen yang menular.

Baca Juga: Kasus Campak di Indonesia Meningkat Mendekati Arah KLB