Dampak perperangan yang terjadi di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memberikan dampak pada harga plastik. Harga plastik di beberapa wilayah di Indonesia dikabarkan mengalami kenaikan secara signifikan bahkan mencapai 100 persen hanya dalam sebulan terakhir.
Selain mengalami kenaikan harga yang cukup tajam, di beberapa wilayah stock plastik juga dilaporkan mengalami kelangkaan terutama dalam sepekan terakhir. Salah satu produk yang mengalami kenaikan paling tinggi adalah thinwall yang mengalami kenaikan hingga Rp 410.000 dari sebelumnya yang hanya Rp 210.000.
Beberapa pedagang bahkan menjelaskan bahwa kelangkaan thinwall sudah terjadi sekitar satu minggu terakhir, sehingga para pedagang sulit memuhi permintaan pelanggan. Selain itu, plastik dengan merek wayang juga mengalami kenaikan yang signifikan, dimana sebelumnya hanya dijual Rp 35.000 per pack sekarang mencapai Rp 55.000 per pack.
Meski mengalami kelangkaan stok dan kenaikan harga yang signifikan, plastik masih dicari oleh banyak orang sehingga tidak menghambat perdagangan plastik. Namun banyak pembeli yang mengeluhkan kenaikan harga plastik yang dinilai terlalu tinggi dan sulitnya mencari stok di beberapa toko plastik.
Gangguan di Sektor Energi
Konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah menyebabkan jalur distribusi energi global menjadi terganggu, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz. Dampak dari langkah Iran yang menutup akses bagi kapal-kapal tertentu untuk melewait Selat Hormuz mulai memberikan dampak ke sektor lainnya.
Dilansir dari To Vima, penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur penting dalam perdagangan minyak global menyebabkan pasokan minyak dunia menjadi terganggu. Salah satu dampak penutupan jalur Selat Hormuz yang mulai di rasakan di Indonesia adalah lonjakan harga plastik yang terjadi secara signifikan.
Penutupan Selat Hormuz juga memberikan dampak domino ke berbagai sektor industri termasuk peterokimia yaitu industri yang mengelola minyak dan gas bumi. Lonjakan harga minyak dunia tercatat mencapai angka 47%, sedangkan polopropilena yang merupakan bahan utama pembuatan plastik melonjak hingga 24 persen.
Penutupan jalur Selat Hormuz memberikan dampak yang signifikan, meningat kawasan Timur Tengah menyumbangkan sekitar 25% ekspor polietilen dan polipropilen dunia. Setelah ranta pasokan dari wilayah Timur Tengah terganggu, hal tersebut tentunya menyebabkan distribusi bahan baku plastik ke beberapa negara terganggu.
Bahan Baku Plastik Naik
Lonjakan harga bahan baku plastik yang terjadi selama beberapa pekan terakhir memberikan tekanan langsung ke industri plastik hilir di Indonesia. Kenaikan harga bahan baku plastik bahkan menyebabkan beberapa perusahaan yang bergerak di industri in mulai bergerak ke arah pemutusan hubungan kerja (PHK).
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo), Henry Chevalier yang mengungkapkan fakta pahit tersebut. Henry mengungkapkan, sejumlah pelaku industri plastik sudah mulai berpikir untuk mengambil langkah PHK pegawai meski masih berada dalam tahap awal.
Aphindo mencatat industri Petrokimia dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 50-60% bahan baku plastik yang dibutuhkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Terkait kekurangan bahan baku yang mencapai 40-50%, Indonesia biasanya bergantung pada impor terutama dari negara Timur Tengah dan sebagian dari China.
Penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur penting menyebabkan jalur utama untuk melakukan impor bahan baku plastik dari Timur Tengah terputus. Henry menjelaskan, kondisi tersebut membuat pelaku usaha hilir tidak berani membuat kontrak baru dengan pelanggan dalam memasok bahan baku plastik.
Harga Produk Ikut Tertekan
Kenaikan bahan baku plastik menyebabkan biaya produksi hilir mengalami kenaikan secara signifikan untuk terus beroperasi demi memenuhi kebutuhan plastik dalam negeri. Untuk meminimalisir kerugian, beban operasional tersebut kemudian diteruskan ke harga produk akhir seperti plastik kemasan yang sudah naik 50 persen.
Aphindo memperingatkan, kondisi seperti ini berpotensi memicu inflasi yang lebih luas di tengah daya beli masyarakat Indonesia yang sedang melemah. Henry mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan melalui kebijakan non-tarif agar industri hulu dalam negeri bisa menjadi lebih kuat menghadapi tekanan.
Pedagang Mengaku Khawatir

Terkait lonjakan harga plastik yang terjadi secara signifkan, pedagang kaki lima (PKL) yang identik dengan penggunaan plastik mengaku sangat khawatir. Beberapa PKL bahkan mengaku kenaikan harga plastik yang terjadi secara signfikan ini menyebabkan keuntungan yang mereka dapatkan menjadi sangat sedikit.
Untuk mengurangi resiko kerugian, para PKL terpaksa membebankan biaya kenaikan harga tersebut dengan menaikkan harga jual dagangan yang mereka jual. Kenaikan harga jual menyebabkan banyak pembeli lebih memilih untuk tidak berbelanja secara berlebihan, mengingat daya beli masyarakat yang sedang melemah.
Pedagang yang memilih untuk tidak menaikkan harga dagangan juga mengaku takut mengalami kerugian, karena keuntungan yang mereka dapatkan menjadi terkikis. Ketakutan mereka berasal dari modal yang harus dikeluarkan agar bisa terus beroperasi meningkat pesat sementara harga dagangan mereka tidak naik.
Baca Juga: Truk TNI Tabrak Pemotor Hingga Meninggal Dunia di Kalideres

