Publik kembali dibuat gempar dengan kabar bangunan Koperasi Desa Merah Putih di Tapanuli Tengah, roboh saat masih tahap pembangunan. Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik karena proyek yang menggunakan anggaran dalam jumlah besar tersebut mengalami kerusakan pada bagian pondasi bangunan.
Bagian pondasi Kopdes Merah Putih di Tapteng dengan ketinggian lebih dari satu meter terlihat roboh pada Jumat 28 Agustus 2026. Pembangunan tersebut diketahui dimulai sejak April 2026, namun pengerjaannya disebut mengalami keterlambatan sehingga kondisi bangunan kini menjadi sorotan masyarakat setempat.
Ketua Kopdes Merah Putih Simpang Labingke, Soaloan Tumanggor, mengaku bahwa pengurus koperasi tidak dilibatkan langsung dalam proses pembangunan gedung tersebut. Pihak pengurus disebut hanya menyiapkan sejumlah dokumen administrasi yang diperlukan, sementara pelaksanaan proyek tetap berada di bawah kewenangan pihak lain.
Kerusakan bangunan Kopdes Merah Putih yang masih dalam tahap pembangunan juga memunculkan pertanyaan mengenai kualitas struktur dan proses pelaksanaan proyek. Pengurus serta warga meminta pihak terkait memberikan penjelasan mengenai anggaran, RAB, pelaksana, pengawasan, dan penyebab robohnya pondasi sebelum pembangunan dilanjutkan kembali.
Kronologi Robohnya KDMP Tapteng

Bangunan Kopdes Merah Putih di Desa Simpang Labingke, Kecamatan Sirandorung, Tapanuli Tengah dilaporkan telah roboh pada Jumat 28 Agustus 2026. Proyek tersebut dilaporkan masih berada pada tahap awal pembangunan sementara bagian pondasi dengan ketinggian lebih satu meter mengalami kerusakan total.
Menurut saksi, pondasi bangunan terlihat roboh ketika proyek belum selesai dikerjakan, Pembangunan gedung tersebut diketahui telah dimulai sejak April 2026. Namun proses pengerjaan disebut mengalami keterlambatan dari rencana awal sehingga kondisi bangunan kemudian menjadi perhatian warga setempat dan pengurus terbaru.
Ketua Kopdes Merah Putih Simpang Labingke, Soaloan Tumanggor menyatakan bahwa pihaknya tidak dilibatkan dalam pembangunan, sebab pihaknya hanya mengurus administratif. Pihaknya hanya diminta menyiapkan dokumen, sementara pelaksanaan proyek disebut berada di bawah kewenangan kontraktor yang langsung melakukan pembangunan di lapangan.
Setelah bagian pondasi roboh pembangunan disebut terhenti sementara dan kondisi fisik bangunan menjadi sorotan Penyebab kerusakan belum dipastikan secara resmi. Pihak terkait diharapkan melakukan pemeriksaan teknis untuk mengetahui faktor penyebab kesesuaian pekerjaan serta kualitas struktur bangunan tersebut sebelum proyek dilanjutkan.
Dugaan Penyebab Robohnya Pondasi
Robohnya pondasi Kopdes Merah Putih di Tapteng diduga berkaitan dengan curah hujan tinggi yang terjadi beberapa hari sebelumnya, dan banjir. Air yang menggenangi kawasan tersebut diduga memengaruhi kestabilan tanah di sekitar bangunan sehingga struktur pondasi mengalami kerusakan dan akhirnya roboh.
Selain banjir, kondisi tanah di sekitar lokasi juga menjadi perhatian karena disebut labil dan berada di kawasan yang memiliki jurang. Pengurus menduga kombinasi tersebut membuat struktur bangunan perlu diperiksa untuk memastikan penyebab robohnya pondasi dan menentukan pihak yang bertanggung jawab.
Masyarakat Mengaku Kecewa
Masyarakat Desa Simpang Labingke mengaku kecewa setelah melihat bangunan Kopdes Merah Putih mengalami kerusakan hingga sebagian pondasinya roboh karena banjir. Warga mempertanyakan proses pembangunan yang dinilai berlangsung tanpa keterlibatan masyarakat setempat, termasuk tidak adanya pemberitahuan mengenai peletakan batu pertama pembangunan.
Rasa kecewa muncul karena warga berharap pembangunan Kopdes Merah Putih dapat memberikan manfaat sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Namun pengerjaan justru disebut lebih banyak melibatkan aparat, sementara masyarakat tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja dalam proses pembangunan gedung tersebut.
Warga sekitar meminta pihak terkait memberikan penjelasan secara terbuka mengenai proses pembangunan, termasuk anggaran, pelaksana, pengawasan, serta penyebab kerusakan bangunan. Mereka menilai kondisi tersebut perlu diperiksa agar penggunaan anggaran dan kualitas pekerjaan dapat diketahui secara jelas oleh masyarakat desa setempat.
Selain menuntut transparansi penggunaan anggaran, masyarakat berharap pembangunan Kopdes Merah Putih dapat dilanjutkan dengan memperhatikan kualitas serta keamanan struktur bangunan. Warga juga menginginkan pengurus dan masyarakat dilibatkan dalam pembangunan, sehingga keberadaan gedung benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Simpang Labingke.
Menggunakan Anggaran Besar
Pembangunan Gedung Kopdes Merah Putih di Desa Simpang Labingke, Tapanuli Tengah telah menelan anggaran dalam jumlah besar, sekitar Rp1,6 miliar. Nilai tersebut menjadi sorotan setelah bagian pondasi bangunan roboh ketika proyek masih dalam tahap pembangunan yang dilaporkan telah berlangsung sejak April 2026.
Besarnya anggaran yang digunakan dalam proyek pembangunan Kopdes Merah Putih membuat masyarakat mempertanyakan kualitas serta proses pelaksanaan proyek di lapangan. Pengurus koperasi mengaku tidak mengetahui secara rinci Rencana Anggaran Biaya (RAB), karena tidak dilibatkan langsung dalam proses pembangunan gedung tersebut.
Pihak pengurus menyebut pembangunan Kopdes di Tapteng berada di bawah kewenangan pihak lain, sementara pelaksanaan melibatkan pihak ketiga dan pemborong. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme penggunaan anggaran, pengawasan pekerjaan, hingga kesesuaian hasil pembangunan dengan nilai dana yang telah disiapkan.
Sementara itu, pihak terkait menanggapi informasi mengenai biaya pembangunan Kopdes secara nasional juga menyebut angka sekitar Rp1,6 miliar sebagai rata-rata. Namun, rincian anggaran dapat berbeda berdasarkan lokasi dan kondisi pembangunan, sehingga pemeriksaan terhadap proyek di Tapteng diperlukan untuk memastikan transparansi.
Baca Juga: Menkomdigi Keluarkan Larangan Hanguskan Kuota Internet

