Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran setelah jeda operasi militer selama sekitar satu bulan dinyatakan resmi berakhir. Serangan terbaru yang dilakukan oleh Amerika terhadap Iran menandai kembali meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran setelah situasi sempat mereda.
Serangan tersebut dilaporkan menyasar wilayah Pulau Larak yang berada dekat Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis dunia. Militer Amerika Serikat menyatakan operasi ini akan menargetkan sistem peluncur rudal milik Iran yang sebelumnya sudah dipantau oleh Amerika Serikat.
Kembalinya aksi militer dari AS menjadi perhatian dunia karena sebelumnya terdapat harapan bahwa jeda konflik dapat memberikan ruang kesepakatan diplomasi. Meski sempat memunculkan harapan perdamaian antara Iran dan Amerika, perkembangan terbaru menunjukkan hubungan kedua negara masih berada dalam kondisi tegang.
Situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini semakin menjadi sorotan setelah Iran menyatakan akan memberikan respons terhadap serangan tersebut. Perkembangan ini membuat berbagai pengamat global khawatir mengenai kemungkinan meluasnya kembali konflik yang semakin meningkat, terutama di kawasan Timur Tengah.
Serangan Pertama AS
Amerika Serikat menyerang dua peluncur Iran di Pulau Larak pada Minggu, menandai operasi militer pertama setelah jeda sekitar satu bulan. Serangan tersebut dilakukan setelah pasukan Iran terpantau menyiapkan roket pembawa ranjau laut menuju Selat Hormuz yang sangat strategis bagi perdagangan.
Menurut keterangan Komando Pusat Amerika Serikat, pasukan Garda Revolusi Iran diduga bersiap menebarkan ranjau menuju Selat Hormuz pada saat itu. Jalur tersebut memiliki peran penting bagi perdagangan energi dan pelayaran internasional, sehingga keamanannya menjadi perhatian global dalam beberapa hari terakhir.
Serangan itu dilakukan setelah militer Amerika sebelumnya dilaporkan telah menyelesaikan operasi pembersihan ranjau dari jalur pelayaran utama di Selat Hormuz. Washington menyatakan langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kelancaran perdagangan dan melindungi kapal komersial yang melintas kawasan strategis tersebut dari ancaman.
Akibat serangan yang dilakukan Militer AS, ketegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat setelah situasi relatif tenang selama beberapa pekan. Iran menyatakan adanya korban akibat serangan AS, sementara Washington menyebut operasinya sebagai tindakan terbatas untuk menghadapi ancaman yang dinilai serius.
Targetkan Pulau Larak
Milter Amerika Serikat juga dikabarkan melancarkan serangan terhadap beberapa fasilitas milik Iran di Pulau Larak, pada Minggu 30 Agustus 2026. Operasi tersebut menjadi serangan pertama Washington terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli, setelah sebelumnya terdapat jeda dalam operasi militer langsung.
Menurut keterangan Amerika, serangan tersebut dilakukan setelah pasukan Iran terpantau mempersiapkan sebuah roket yang mencurigakan dan diduga membawa ranjau laut. Setelah serangan tersebut, Iran menyatakan serangan tersebut menimbulkan korban, sementara Garda Revolusi (IRGC) berjanji akan memberikan respons terhadap tindakan Amerika.
AS Siapkan Sanksi Ekonomi Terhadap Iran
Amerika Serikat meyiapkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui kampanye sanksi baru Washington menargetkan jaringan keuangan perdagangan energi dan sekutu Iran. Sekutu Iran dianggap membantu aktivitas ekonomi Teheran, langkah ini diumumkan ketika ketegangan kedua negara kembali meningkat setelah konflik terbaru pecah.
Sanksi tersebut juga diarahkan kepada sejumlah negara yang masih melakukan transaksi dengan Iran, Washington memperingatkan mitra dagang Teheran mengenai sanksi. Kebijakan untuk menetapkan sanksi sekunder itu bertujuan mempersempit akses Iran terhadap sistem keuangan internasional dan sumber pendapatan utamanya secara bertahap.
Departemen Keuangan Amerika Serikat menyatakan bahwa kampanye tersebut mencakup puluhan perusahaan dan kapal asing yang diduga melakukan perdagangan dengan Iran. Pemerintah Amerika juga berencana menambah sanksi secara berkala, terutama terhadap lembaga keuangan untuk membatasi kemampuan Teheran membiayai kegiatan ekonomi nasional.
Ancaman tersebut dinilai dapar menyebabkan Iran mengalami tekanan ekonomi yang semakin berat, sementara Iran mengecam kebijakan yang akan ditetapkan Washington. Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan tekanan ekonomi terhadap Iran dan sekutunya akan terus ditingkatkan untuk memaksa Teheran memenuhi tuntutannya Amerika.
Iran Tidak Ingin Lanjutkan Perang

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak ingin melanjutkan perang dengan Amerika Serikat meski ketegangan diantara kedua negara kembali meningkat. Pernyataan itu disampaikan oleh Masoud Pezeshkian setelah Washington melancarkan serangan terbaru terhadap sasaran Iran di sekitar Selat Hormuz pada Minggu (30/8/2026).
Pezeshkian menyatakan Iran akan tetap mempertahankan kedaulatan wilayahnya dan seluruh kepentingan nasionalnya ketika menghadapi berbagai tekanan yang dilancarkan oleh Washington. Meski begitu, pemerintahannya tidak memiliki niat memperluas konflik, sekaligus menekankan pentingnya menjaga stabilitas kawasan agar ketegangan tidak berkembang menjadi perang.
Pernyataan tersebut muncul ketika hubungan Washington dan Teheran kembali memburuk setelah jeda operasi militer berakhir pada Minggu (30/8/2026). Amerika Serikat sebelumnya menyerang peluncur Iran di Pulau Larak, sementara Teheran menyatakan bahwa pihaknya akan memberikan respons terhadap tindakan tersebut.
Di tengah situasi yang kembali memanas, pernyataan Pezeshkian menunjukkan adanya keinginan Iran untuk menghindari perluasan konflik bersenjata dengan militer AS. Pemerintah Iran tetap menghadapi tekanan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat, tetapi membuka ruang bagi upaya diplomasi untuk mengurangi ketegangan.
Baca Juga: Trump Nyatakan Selat Hormuz akan Segera Jadi Milik AS

