Donald Trump dan Xi Jinping

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dilaporkan berangkat ke Beijing, China pada Selasa (12/5/2026) untuk bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping. Kunjungan Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping dilakukan setelah Washington gagal membujuk China untuk berunding dengan sekutunya Iran.

Washington dikabarkan sudah meminta Beijing untuk menekan Iran agar menandatangani persyaratan untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama dua bulan. Selain itu, Pemerintah AS juga meminta agar China membujuk Iran agar membuka kembali jalur pelayaran energi global yaitu Selat Hormuz.

Pertemuan yang akan dilakukan Trump dan Xi Jinping dijadwalkan pada 14 dan 15 Mei ini memunculkan eskpetasi dari pengamat internasional. Agenda ini juga menjadi kali pertama kedua pemimpin negara adidaya tersebut bertemu sejak melakukan jeda perang dagang pada Oktober 2025.

Perang dagang yang dilakukan Amerika dengan China menunjukkan bahwa pendekatan Trump gagal memberikan keunggulan menjelang perundingan yang dilakukan dua negara. Kedua pemimpin negara adidaya ini akan bertemu di Ibu Kota China dan diyakini akan menjadi acara kenegaraan yang cukup mewah.

Iran jadi Tekanan Washington

Seorang profesor yang berfokus pada kebijakan luar negeri China di University of Hong Kong, Alejandro menyebut Trump tampaknya membutuhkan China. Menurut Alejandro, saat ini Washington memerlukan semacam kemenangan kebijakan luar negeri untuk memastikan stabilitas dunia dan bukan sekedar kebutuhan politik.

Tekanan dari warga Amerika terhadap Trump yang mencapai angka lebih dari 60% menjadi salah satu alasan Trump berkunjung ke Beijing. Berdasarkan hasil survei, banyak warga Amerika Serikat tidak setuju dengan langkah Trump yang memulai perperangan dengan Iran di Timur Tengah.

Kondisi ini semakin menyudutkan Trump, sebab ia harus membawa hasil konkret setelah mengunjungi Xi Jinping di Beijng terkait masalah di Timur Tengah. Terkait keterlibatan Beijing sebagai sekutu Iran, Trump menunjukkan sikap yang berubah-ubah terkait peran Beijing dalam konflik bersenjata di Timur Tengah.

Trump juga kerap mengecam China karena tidak cukup membujuk Iran sebagai salah satu negara yang menjadi mitra dagang terbesar Iran. Namun ia juga memuji pemerintahan Xi Jinping yang telah membantu Washington untuk mendorong Teheran kembali ke meja perundingan dalam negosiasi .

Sikap Gedung Putih

Menjelang kunjungan berisiko tinggi Trump, Gedung Putih telah menetapkan ekspektasi rendah bahwa Trump mampu membujuk Xi Jinping mengubah sikap Beijing. Meski begitu, pemerintahan Donald Trump tidak ingin membiarkan isu Iran mengganggu agenda lain yang tak kalah rumit, seperti perdagangan global.

Taiwan jadi Posisi Tawar

Selain membahas permasalahan Iran, China juga sempat menanyakan komitmen AS untuk menjual senjata ke Taiwan di tengah konflik dengan China. Menanggapi pertanyaan China, Trump tidak memberikan jawaban langsung meski isu kemerdekaan Taiwan adalah hal yang sensitif bagi pemerintahan Xi Jinping.

Mengacu pada invasi Rusia ke Ukraina, Trump mengatakan bahwa dirinya tidak berpikir China akan melakukan invasi yang sama ke Taiwan. Hal tersebut ia sampaikan kepada jurnalis di Ruang Oval, Gedung Putih, sebab ia yakin memiliki hubungan yang baik dengan China.

Meski yakin dengan hubungan AS dan China, Trump juga menyatakan bahwa Amerika memilik posisi yang sangat jauh jika dibandingkan dengan China. Menanggapi pernyataan Trump tersebut, Kementerian Luar Neger Taiwan berjanji bahwa pihaknya akan terus memperkuat hubungan kerja sama dengan Amerika Serikat.

Dengan Amerika yang menjadi negara pendukung keamanan utama, Taiwan menyatakan akan membangun kemampuan pencegahan yang efektif untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Meski begitu, kekhawatiran muncul dari berbagai pihak bahwa proses tawar-menawar antara Trump dan Xi Jinping bisa merebut Taiwan dengan paksa.

Pengaruh ke Harga Minyak Dunia

Indeks Minyak

Harga minyak dunia mengalami penurunan menjelang rencana pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping di tengah perhatian pelaku pasar energi. Pelaku pasar menilai negosiasi kedua negara berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan internasional dan permintaan energi dalam beberapa bulan mendatang secara signifikan.

Penurunan harga minyak dunia dipicu kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia akibat ketegangan dagang yang masih membayangi hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok. Investor mulai mengurangi aktivitas pembelian minyak mentah karena permintaan energi diperkirakan melemah apabila kondisi perdagangan global kembali mengalami tekanan berkepanjangan.

Pertemuan antara Trump dan Xi Jinping dianggap penting untuk menentukan arah kebijakan perdagangan serta hubungan ekonomi kedua negara besar tersebut. Pasar energi dunia menunggu hasil pembicaraan yang diharapkan mampu meredakan ketidakpastian ekonomi sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap prospek permintaan minyak global.

Selain faktor geopolitik, para pelaku pasar juga memantau produksi minyak dari negara anggota OPEC serta kondisi persediaan energi Amerika Serikat. Harga minyak dunia diperkirakan tetap bergerak fluktuatif hingga adanya kepastian hasil pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping dalam waktu dekat.

Baca Juga: Amerika Serikat Kembali Bentrok dengan Iran di Selat Hormuz