Perperangan yang terjadi di Timur Tengah antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) sejak 28 Februari 2026 terus berlansung hingga saat ini. Sampai hari ke-11 sejak perperangan Iran melawan Israel dan Amerika dimulai setidaknya terdapat sekitar 140 personel militer AS telah terluka.
Akibat eskalasi konflik panas yang terus terjadi di Timur Tengah sampai saat ini telah mendapatkan respon keras dari berbagai pihak. Meski telah mendapatkan tekanan dari berbagai negara, baik Iran maupun Amerika Serikat dan Israel masih belum berencana untuk mengakhiri perperangan.
Perperangan yang terjadi di Timur Tengah juga memunculkan kekhawatiran di pasar global dan memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi di berbagai negara. Hal tersebut dikarenakan Iran diketahui sudah menutup Selat Hormus yang menjadi titik vital dalam dalam mengelola sumber daya energi dunia.
Ketegangan diantara pihak yang berkonflik diperparah setelah Iran memutuskan unutk menunjuk anak Ali Khamenei yang gugur dalam serangan sebelumnya sebagai pemimpin baru. AS bersama Israel menyatakan bahwa pihaknya sedang menyusun rencana untuk melakukan serangan lanjutan ke Iran dengan skala yang lebih besar.
AS Desak Arab Saudi Ikut Perang
Senator Amerika Serikat (AS), Lindsey Graham mendesak Arab Saudi untuk bergabung dengan serangan yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran. Lindsey bahkan menggambarkan jika Arab bergabung dengan perperangan maka hal tersebut dianggap sebagai perang yang menguntungkan kedua belah pihak.
Meski begitu, Arab Saudi sempat menolak untuk menggunakan militer mereka yang mumpuni sebagai bagian dari upaya untuk mengakhiri rezim Iran. Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian dunia ke Timur Tengah karena berpotensi memperluas skala perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Alasan pernyataan tersebut membuat dunia menaha nafas karena hal tersebut disampaikan langsung oleh salah satu tokoh politik berpengaruh di Washington. Dalam pernyataannya, Lindsey mempertanyakan sikap Saudi Arabia yang dinilai masih belum ikut campur tangan langsung dalam operasi militer melawan Iran.
Menurutnya, jika Iran dianggap ancaman bagi kawasan Timur Tengah, maka negara-negara Timur Tengah juga seharusnya ikut terlibat dalam operasi militer. Oleh karena itu, AS melalui Lindsey mendesak Arab Saudi agar segera mengerahkan pasukan militer dan persenjataan mereka untuk menghancurkan rezim Iran.
AS Singgung Pakta Pertahanan

Lindsey mempertanyakan alasan AS harus menjalin perjanjian pertahanan dengan Arab Saudi jika negara itu tidak mau ikut bertempur ketika konflik terjadi. Lindsey bahkan sempat mengeluarkan pernyataan yang menyinggung kesepakatan kerja sama pertahanan besar yang dilakukanantara Washington dan Riyadh belum lama ini.
Pada masa pemerintahan Donald Trump, Amerika menyetujui paket kerja sama pertahanan dan keamanan senilai 142 miliar dolar AS dengan Arab Saudi. Sebagai imbalan dari kerja sama pertahanan tersebut, Arab Saudi telah berjanji akan investasi hingga 600 miliar dolar ke Amerika Serikat.
Bagian paling penting dari kesepakatan tersebut adalah izin bagi Arab Saudi untuk membeli jet tempur siluman F-35 Lightning II. Jet tempur yang diproduksi oleh Lockheed Martin tersebut adalah sebuah pesawat eksklusif yang diberikan kepada sekutu terdekat Amerika saja.
Graham menilai Arab Saudi seharusnya lebih aktif dalam membantu AS dan Israel sebagai sekutu di Timur Tengah dalam menghadapi Iran. Ia menyatakan bahwa Amerika telah mengorbankan banyak hal dalam konflik di kawasan Timur Tengah untuk mencegah Iran menguasai wilayah kawasan.
Bisa Menjadi Peluang Keuntungan
Terkait penyerangan ke Timur Tengah, Lindsey mengatakan bahwa jika rezim Iran runtuh, maka dunia akan melihat Timur Tengah yang baru. Ia juga menyebut bahwa Amerika Serikat berpotensi untuk menghasilkan lebih banyak uang dari perubahan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut langsung mendapatkan kritik dari berbagai pihak yang menilai konflik tidak seharusnya dilihat sebagai peluang keuntungan ekonomi bagi AS. Meski begitu, Lindsey terus mendorong negara-negara bagian Timur Tengah untuk ikut terlibat langsung dalam konflik AS dan Israel melawan rezim Iran.
Korea Utara Dukung Iran
Menurut laporan yang disampaikan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada 11 Maret, Pyongyang menyatakan bahwa mereka menghormati keputusan rakyat Iran. Pyongyang juga mendukung langkah tegas yang diambil Iran yang menjadikan Motjaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru meski menghadapi tekanan AS.
Mojtaba Khamenei ditunjuk awal pekan ini untuk menggantikan ayahnya, mendiang pemimpin Ali Khamenei, setelah ia tewas dalam serangan AS dan Israel di Teheran. Melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara, Pyongyang akan menghormati hak dan pilihan rakyat Iran untuk mempertahankan rezim Iran.
Sejak menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1973, Korea Utara dan Iran diyakini telah mempertahankan hubungan yang erat dalam sistem pertahanan. Korut juga menyatakan keprihatinan mendalam terhadap apa yang dialami Iran dan mengutuk keras tindakan agresif yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
Baca Juga: Motjaba Khamenei Resmi Ditunjuk Menjadi Pemimpin Iran

