Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi secara terus menerus di perairan Selat Sunda dengan aktivitas disertai semburan lava merah menyala. Fenomena tersebut berlangsung sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi dan memicu suara gemuruh serta dentuman yang terdengar dari sejumlah wilayah.
Badan Geologi menyatakan erupsi tersebut bertipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar abu vulkanik serta semburan menyerupai air mancur lava. Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau secara intensif karena status gunung tersebut berada pada Level III atau Siaga.
Semburan berwarna merah menyala terlihat dengan jelas selama beberapa jam meskipun tinggi kolom erupsi tidak selalu dapat diamati dengan jelas. Kondisi tersebut menjadi perhatian masyarakat terutama setelah suara dentuman dan getaran dilaporkan terasa hingga wilayah Banten Lampung serta Jawa Barat.
Pemerintah melalui Badan Geologi dan BNPB meminta masyarakat tetap tenang serta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif demi menghindari potensi bahaya erupsi.
Kronologi Letusan Gunung

Aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat pada Jumat 4 September 2026 sejak pagi hari ketika beberapa erupsi tercatat melalui alat pemantauan. Pada pukul 04:11 WIB, erupsi pertama terjadi disusul letusan pukul 04:19 dan 04:28 WIB yang sebagian besar terekam seismograf.
Erupsi berikutnya dilaporkan terjadi pada pukul 05:46 WIB dengan kolom abu terlihat mencapai sekitar 300 meter di atas puncak gunung. Aktivitas vulkanik terus dipantau petugas sepanjang hari karena berbagai jenis gempa masih tercatat dan menunjukkan kondisi gunung belum sepenuhnya stabil.
Memasuki Jumat malam, aktivitas Gunung Anak Krakatau dilaporkan kembali meningkat dengan erupsi menerus disertai suara gemuruh serta semburan lava pijar. Berdasarkan laporan pemantauan, aktivitas tersebut berlangsung hingga Sabtu, 5 September 2026 dini hari ketika masyarakat di sejumlah daerah melaporkan letusan.
Pada Sabtu 5 September 2026 sekitar pukul 00.01 WIB, letusan kembali tercatat sementara pemantauan menunjukkan erupsi masih terjadi beberapa kali. Hingga pukul 04:40 WIB, suara gemuruh masih terdengar sehingga pemerintah terus mengimbau masyarakat menjauhi radius bahaya tiga kilometer dari kawah.
Status Siaga Tiga
Gunung Anak Krakatau saat ini berstatus Level III atau Siaga setelah aktivitas vulkaniknya menunjukkan peningkatan yang terus dipantau oleh petugas. Status tersebut menandakan adanya aktivitas signifikan sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan selalu mengikuti informasi dari Badan Geologi serta PVMBG.
Penetapan status Siaga 3 membuat pemerintah memperketat pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terutama setelah erupsi menerus disertai semburan lava. Petugas terus mengamati perubahan aktivitas visual dan kegempaan untuk mengetahui perkembangan kondisi gunung serta potensi perubahan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
PVMBG mengimbau masyarakat, wisatawan dan pendaki agar tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Peringatan tersebut diberikan untuk mengurangi risiko terhadap kemungkinan lontaran material vulkanik yang masih berpotensi terjadi selama aktivitas erupsi sedang berlangsung.
Pemerintah meminta masyarakat, khususnya di sekitar pesisir Banten dan Lampung tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat diharapkan mengikuti pengumuman resmi dari PVMBG Badan Geologi BNPB dan pemerintah daerah mengenai perkembangan terbaru aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Tidak Berpotensi Tsunami
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini tidak berpotensi memicu tsunami berdasarkan hasil evaluasi PVMBG terbaru. Pertumbuhan tubuh gunung yang terbentuk kembali pascaerupsi sebelumnya masih relatif kecil sehingga diperkirakan tidak mengalami keruntuhan besar yang dapat memicu gelombang tsunami.
Meski tidak berpotensi tsunami, pemerintah tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Masyarakat khususnya di pesisir Banten dan Lampung diminta tidak panik serta mematuhi rekomendasi PVMBG dan BNPB demi menjaga keselamatan bersama.
Kesaksian Warga
Sejumlah warga di wilayah Jawa Barat, Banten dan Lampung mengaku sempat mendengar suara dentuman keras akibat letusan Gunung Anak Krakatau. Suara tersebut membuat sebagian warga terkejut sebab terjadi berulang kali bersamaan dengan laporan erupsi yang terjadi dari kawasan Selat Sunda.
Warga Bandung dan daerah sekitarnya juga melaporkan adanya getaran ringan yang mereka rasakan ketika suara dentuman muncul pada tengah malam. Beberapa warga mengaku terbangun dari tidur setelah mendengar bunyi keras, sementara pintu serta kaca rumah dilaporkan sempat bergetar beberapa saat.
Selain itu, warga di wilayah Banten memberikan kesaksian mengenai suara gemuruh dahsyat yang terdengar berulang kali hingga menjelang dini hari. Suara tersebut menjadi perhatian setelah diketahui Gunung Anak Krakatau sedang mengalami erupsi beruntun disertai semburan lava merah yang terlihat jelas.
Badan Geologi memberikan penjelasan terkait dentuman yang didengar warga dengan erupsi Gunung Anak Krakatau masih berupa dugaan meski terjadi bersamaan. Pemerintah tetap meminta masyarakat tidak panik dan mengikuti informasi resmi sambil meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik di Selat Sunda.
Baca Juga: Menhub Ungkap Perpres Ojol Sudah dalam Tahap Finalisasi

